DetikNews
Rabu 14 November 2018, 13:46 WIB

Golkar ke Titiek: Yang Bohong Itu Bilang 99% Rakyat Pas-pasan

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Golkar ke Titiek: Yang Bohong Itu Bilang 99% Rakyat Pas-pasan Ace Hasan Syadzily (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) bicara soal janji-janji Presiden Joko Widodo dan mempertanyakan orang bohong yang ingin dipilih dua kali. Partai Golkar mempertanyakan pernyataan Titiek.

"Siapa yang bohong? Yang bohong itu adalah pihak-pihak yang selalu memanipulasi data dan fakta. Yang menyatakan bahwa 99% rakyat Indonesia hidup dalam kondisi pas-pasan. Padahal data tidak mengatakan itu," kata Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily via WhatsApp, Rabu (14/11/2018).

Ace lalu mengulas soal swasembada yang diungkit Titiek. Dia juga berbicara soal stok pangan negara.

"Kita harus menyepakati dulu apa yang dimaksud dengan swasembada itu, apakah produksi beras itu surplus? Jika mengacu pada konsep itu, sejak tahun 2011 hingga 2017, tren kenaikan produksi beras terus mengalami kenaikan, yakni 65,75 juta ton pada tahun 2011 dan 81,38 juta ton pada tahun 2017. Capaian 2017 sebenarnya sudah melampaui target produksi beras yang ditetapkan, yakni sebesar 79 juta ton, membuat pertumbuhan capaian dari tahun sebelumnya sebesar 2,56%," ujar Ace.


"Berdasarkan data BPS, surplus beras tahun 2017 terhitung 13,81 juta ton. Surplus tersebut dihitung dari jumlah produksi dikurangi angka total kebutuhan beras/konsumsi, yakni berdasarkan jumlah penduduk dikalikan tingkat konsumsi per kapita. Angka produksi 2017 padi 81,3 juta ton atau setara beras 47,29 juta ton, dan pertumbuhan penduduk menjadi 261,89 juta jiwa. Dikalikan tingkat konsumsi 114,6 kg, maka total konsumsi beras mencapai 33,47 juta ton. Dari perhitungan tersebutlah angka surplus beras diperoleh," beber Ace.

Menurut Ace, tidak gampang mewujudkan swasembada pangan. Ace lalu berbicara soal kondisi di era Orde Baru atau pemerintahan ayah Titiek, Presiden Soeharto.

"Tidak gampang untuk mewujudkan swasembada pangan itu. Pemerintahan Orde Baru saja membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk swasembada beras. Baru 1984, pemerintahan Soeharto mampu menghasilkan swasembada. Menurut data, memasuki dekade 1990-an, Indonesia terpaksa kembali mengimpor beras dari negara lain. Bahkan, pada 1995, ketergantungan terhadap impor beras melambung hingga mencapai angka sekitar 3 juta ton," sebut Ace.


"Situasi beranjak parah lantaran kala itu krisis ekonomi mulai 'mengintip' kawasan Asia, yang kemudian benar-benar melanda Indonesia pada 1997 dan 1998. Data BPS dan Kementerian Pertanian menyebutkan produksi beras nasional tahun 1998 hanya sekitar 33 juta ton, sedangkan konsumsinya mencapai lebih dari 36 juta ton," jelas anggota DPR itu.

Sebelumnya diberitakan, Titiek mengulas janji Jokowi-JK 3 tahun lalu bahwa akan swasembada padi, jagung, dan kedelai.

Di depan peserta temu relawan lintas ormas pendukung Prabowo-Sandiaga Uno di Kota Cilegon, Banten, Titiek memaparkan bahwa padi, jagung, dan kedelai hari ini masih diimpor. Padahal, kata dia, Jokowi pernah berjanji soal swasembada ketiga jenis pangan tersebut. Nyatanya, klaim Titiek, pemerintah malah melakukan impor.


"Bayangkan kita negara yang kaya raya diberi tanah yang subur oleh Allah apa saja bisa tumbuh, ini malah beras, jagung, cabe aja impor kemudian garam impor, cangkul aja impor orang Banten," lanjutnya.

Dari penjabaran itu, Titiek lantas menyinggung janji Jokowi yang tak ditepati. "Jadi kalau ada orang janji terus nggak ditepati namanya apa?" tanya Titiek kepada hadirin.

Sontak relawan Prabowo-Sandi menyebut kata 'bohong'. Titiek kemudian mengeluarkan celetukan. "Bohong kok minta dipilih dua kali," kata dia.


Saksikan juga video 'Senyum-senyum Prabowo Saat Sebut Nama Titiek Soeharto':

[Gambas:Video 20detik]


(gbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed