DetikNews
Jumat 09 November 2018, 21:28 WIB

Jadi Khatib Jumat, Rommy Cerita Peran Ulama Saat Perang 10 November

Robi Setiawan - detikNews
Jadi Khatib Jumat, Rommy Cerita Peran Ulama Saat Perang 10 November Foto: Dok PPP
Jakarta - Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy (Rommy) menyampaikan sejumlah peran umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya saat perang 10 November 1945 di Surabaya.

Rommy menceritakan bahwa perang 10 November 1945 adalah perang antara rakyat Indonesia melawan Belanda dan Sekutu. Para ulama saat itu kemudian mengeluarkan fatwa tentang kewajiban untuk berjihad.

"Indonesia yang saat itu baru merdeka dan memiliki TNI harus berhadapan dengan Belanda yang hendak menjajah kembali. Kemudian para ulama yang dipimpin KH Hasyim As'ari bermusyawarah dan mengeluarkan resolusi jihad," kata Rommy dalam keterangan tertulis, Jumat (9/11/2018).


Hal tersebut disampaikannya saat didaulat menjadi khatib Jumat di Masjid Agung Raudhatul Abidin, Jalan Mayjend Aziz Bustan Kota Majene, Sulawesi Barat.

Dirinya menjelaskan resolusi jihad tersebut terdiri dari lima poin, di antaranya menyebutkan bahwa perang melawan penjajah adalah fardu 'ain (wajib bagi semua orang).

Menurutnya para pejuang yang meninggal dalam perang dinilai meninggal sebagai syahid, sehingga jenazahnya pun diperlakukan layaknya seorang syahid, yaitu di antaranya adalah jenazah tidak perlu dikafani.

"Sementara semua orang yang membantu penjajah dianggap sebagai pengkhinat dan bughot (pemberontak), yang juga harus diperangi. Mereka yang membantu Belanda dianggap pantas dibunuh," katanya.


Mengingat besarnya peran ulama mempertahankan bangsa ini, maka umat Islam saat ini juga harus berperan menjaga persatuan di Indonesia. Menurut Rommy selain harus bisa memperkuat ukhuwah islamiah, umat Islam juga perlu berada di garda terdepan dalam menjaga ukhuwah wathonihan (kebangsaan) dan basyariah (kemanusian).

"Ukhuwah wathaniyah merupakan persaudaraan yang diikat oleh rasa nasionalisme. Rasa persaudaraan ini terjalin karena sesama warga negara tanpa membeda-bedakan suku, adat, dan budaya. Islam tidak melarang kita cinta terhadap Tanah Air kita, karena itu sudah melekat dalam hati manusia," pungkasnya.
(ega/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed