Laporan dari Fuzhou

Ceritakan Persahabatan RI-China, Mega Cuplik Kisah Cheng Ho

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 05 Nov 2018 18:31 WIB
Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menggelar ramah-tamah dengan Gubernur Provinsi Fujian Mr Tang Dengjie. (Erwin/detikcom)
Fuzhou - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri mengatakan hubungan Indonesia dengan Republik Rakyat China sudah seperti persahabatan tradisional. Usia persahabatan kedua negara sudah terjalin sejak berabad-abad silam.

"Dari berabad lalu hubungan (Indonesia-China ) itu sudah terjalin. Dalam bagian dari sejarah Indonesia, kami tidak akan pernah lepas dari Laksamana Cheng Ho," kata Megawati saat beramah-tamah dengan Gubernur Provinsi Fujian Mr Tang Dengjie, Senin (5/11/2018).


Pada 11 Juli 1405, Laksamana Cheng Ho diperintahkan Kaisar Yongle melakukan ekspedisi pelayaran ke Samudra Hindia. Ekspedisi ini akhirnya tiba di Indonesia (Nusantara).

Laksamana Cheng Ho, yang kala itu membawa 27.000 tentara, singgah di Kerajaan Sriwijaya di wilayah Sumatera dan Majapahit di Jawa Timur. Wilayah yang disinggahi tentara Cheng Ho mendapat kemajuan dalam hal bercocok tanam, beternak, berdagang, budaya, seni ukir, dan sebagainya.

"Laksamana Cheng Ho datang ke Indonesia dan berkunjung ke beberapa tempat yang situsnya sampai saat ini masih ada," kata Mega.

Saat ini, Mega melanjutkan, banyak pengusaha Indonesia yang berasal dari China. Bahkan sekarang masih berlangsung Shanghai Expo untuk Indonesia.

"Dan masih banyak sebetulnya yang dapat dilakukan kedua negara, termasuk Provinsi Fujian. Kita sebetulnya hal-hal sama seperti di bidang budaya sosial, ekonomi, " papar Mega.


Hari ini Mega berada di Fuzhou untuk menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) di bidang diplomasi ekonomi dari Fujian Normal University (FNU), Fuzhou.

Ini adalah gelar honoris causa kedelapan untuk Megawati. Sebelumnya, Megawati sudah menerima tujuh gelar doktor kehormatan dari Universitas Waseda Tokyo di Jepang (2001); Moscow State Institute of International Relation di Rusia (2003); Korea Maritime and Ocean University di Korea Selatan (2015); Universitas Padjadjaran Bandung (2016); Universitas Negeri Padang (2017); Mokpo National University di Korea Selatan (2017), dan doktor honoris causa bidang politik pemerintahan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (2018). (erd/idh)