Beberapa bulan belakangan, Sahabudin hampir setiap pekan bolak-balik Cilegon-Pangkalpinang. Biasanya, tutur seorang kerabat korban, Idawati, Abud pulang hanya 2 bulan sekali. Namun, sekitar 3 bulan terakhir, korban sering pulang ke Cilegon untuk berkumpul bersama keluarga.
"Kalau sekarang-sekarang ini tiap minggu pulang, waktu itu mah 2 bulan sekali," kata Idawati kepada wartawan di kediaman Sahabudin, Senin (29/10/2018).
Biasanya, korban berangkat dari Pangkalpinang setiap Jumat. Waktu akhir pekan ia habiskan untuk melepas kangen bersama keluarga. Pada Senin (29/10) pagi tadi, ia berangkat diantar istri ke pul bus DAMRI di PCI, Kota Cilegon, untuk berangkat kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar Sahabudin menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air di Tanjung Karawang itu pertama kali diketahui kakak ipar Sahabudin, Nur Mu'minah, dari WhatsApp Group keluarga.
Saat dicek, nama Sahabudin terlampir dalam daftar korban jatuhnya pesawat yang hilang kontak pada pukul 06.33 WIB tersebut. Sang istri pun langsung berangkat ke kediaman keluarga besar Sahabudin di Cikande, Kabupaten Serang.
Mu'minah berharap ada keajaiban pada diri Sahabudin. Keluarga besarnya menanti kabar dari pihak berwenang terkait Sahabudin, yang menjadi korban pesawat jatuh.
"Mukjizat Allah kita tungguin, kalau lecet mah nggak apa-apa," kata dia.
Simak Juga 'Keluarga Korban Lion Air Tak Harus Datang ke Karawang':
(asp/asp)










































