Ratusan Hektar Kebun Sawit di Riau Terbakar
Minggu, 21 Agu 2005 13:33 WIB
Pekanbaru - Ratusan hektar perkebunan sawit milik masyarakat Kabupaten Rokan Hilir-Riau, 300 km arah utara Pekanbaru, terbakar. Diperkirakan, api yang menjalar ke perkebunan milik masyarakat itu sebagai rembetan dari aktivitas pembukaan lahan yang dibakar.Pantaun detikcom di lapangan, sebagian kawasan lahan eks HPH yang terbakar itu sebagian besar berada di Kecamatan Bangko dan Kecamatan Kubu, Rokan Hilir (Rohil). Sepanjang jalan lintas antara kecamatan, di kiri badan jalan, terlihat hutan semak belukar berubah warna kekuning-kuningan bertanda sisa pembakaran.Pembakaran lahan, di satu sisi memang menguntungkan pemilik lahan, karena tidak perlu lagi mengeluarkan upah kepada masyarakat untuk membersihkan lahan dengan cara tebang tebas. Dengan cara membakar, semunya lebih efektif dan menghemat dana.Tapi, bagi pemilik kebun sawit yang lahannya bersebelahan dengan aktivitas pembakaran lahan itu, jelas dirugikan. Saban hari, mereka harus menjaga kebun sawitnya agar api tidak menyeberang ke kebun sawit. Tapi usaha itu selalu saja gagal."Kencangan angin dari aktivitas pembakaran lahan akhirnya merembet ke kebun kami. Kami tak kuasa menghalau api itu. Karena percik-percik terbawa sampai ke kebun sawit dan membakar sawit kami," keluh Ahmat (45), seorang warga Desa Teluk Nilam, Kecamatan Bangko Jaya dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (21/8/2005).Ahmat, ayah dari 4 orang anak itu, kini hanya bisa mengelus dada melihat 4 hektar kebun sawitnya yang ludes terbakar. Padahal di usia kebun 5 tahun ini, paling tidak sudah bisa menghasilkan panen 10 ton/ bulan. Itu artinya, hasil panen kebun sawit Rp 5 juta setiap bulannya itu kini harus sirna gara-gara api."Saya tak tahu harus begaimana lagi melihat kebun sawit yang terbakar ini. Mau menuntut pada siapa kami juga tidak tahu. Entahlah, dari mana lagi kami mau menutupi biaya sekolah anak-anak. Ini belum lagi saya harus mengembalikan modal membuka kebun itu," keluhnya.Nasib yang sama juga menimpa Fauzan, pemilik kebun sawit 2 hektar. Tiga tahun silam, dia meminjam modal ke salah seorang keluarganya sebesar Rp 25 juta untuk membuka kebun. Modal itu harus dia kembalikan ketika sawit sudah bisa dipanen. Baru berjalan 4 bulan ini, ayah dari 3 orang anak itu bisa menghasilkan sawit 5 ton per bulan. Dari kebunnya itu, dia bisa mengantongi uang Rp 2,5 juta perbulan."Saya menyicil utang dengan cara memotong penghasilan kebun sawit sebesar 30 persen. Tapi baru saja berjalan 4 bulan, kebun saya ludes terbakar. Padahal dalam sepekan yang lalu saya sudah mati-matian mengawasi kebun agar jangan sampai terbakar. Tapi naisb berbicara lain," keluh Fauzan, jebolan SMU itu.Baik Fauzan dan Ahmat, hanya sebuah contoh kecil dari ratusan masyarakat lainnya yang juga kebun sawitnya terbakar. Kini mereka tidak bisa berbuat banyak, kecuali menatap kebun sawit yang dilalap si jago merah.
(asy/)











































