DetikNews
Rabu 10 Oktober 2018, 21:15 WIB

Kontroversi Guru SMA 87 Dituding Doktrin Anti-Jokowi

Herianto Batubara, Muhammad Fida Ul Haq, Arief Ikhsanudin - detikNews
Kontroversi Guru SMA 87 Dituding Doktrin Anti-Jokowi SMAN 87 Jakarta (Arief Ikhsanudin/detikcom)
Jakarta - Seorang guru SMA Negeri 87 Jakarta, Nelty Khairiyah, dituding memberikan doktrin untuk membenci Presiden Jokowi kepada peserta didiknya. Nelty langsung minta maaf.

"Kalau pembinaan, saya sudah (lakukan). Dia berjanji tidak akan mengulang lagi dan telah meminta maaf," ujar Kepala SMAN 87 Jakarta Patra Patriah saat ditemui di kantornya, Bintaro, Jakarta Selatan, Rabu (10/10/2018).



Patra tak tahu persis bagaimana kejadiannya. Namun sempat viral aduan mengenai materi pelajaran yang diberikan oleh Nelty. Materi itu dinilai mengandung unsur doktrin yang menyudutkan Presiden Jokowi.

Dalam aduan yang viral tersebut, si pengadu yang mengaku orang tua murid menyebut anaknya dan siswa SMAN 87 lainnya dikumpulkan guru N di suatu tempat dan kepada mereka ditunjukkan video gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Masih dalam aduan itu, si pengadu menjelaskan guru N menyebut banyaknya korban bergelimpangan akibat gempa merupakan salah Jokowi. Pengadu berkeberatan terhadap tindakan N yang dianggap telah melakukan doktrin anti-Jokowi.

Kepada detikcom, Nelty kemudian bercerita soal kejadian itu. Dia juga menyampaikan penyesalan.

"Jadi dari saya pribadi ini, insyaallah, sama sekali tidak terjadi suatu apa pun, dan tidak ada niat apa pun sama sekali. Saya termasuk guru yang insyaallah netral, saya netral sekali," ujar Nelty ketika dimintai konfirmasi detikcom.

Dia mengklarifikasi soal aduan yang menyebut dirinya mengumpulkan murid-murid di masjid. Menurut dia, kejadiannya tak seperti itu.

"Tidak begitu. Jadi kalau saya ngajar itu anak-anak kan saya suruh salat dulu, Pak. Habis salat, nanti baru mereka presentasi, nggak ada yang namanya niat saya sengaja kumpulkan itu. Salah itu. Memang pembelajaran saya anak-anak lebih fokus pada pengamalan sehari-hari, jadi itu ya saya suruh mereka salat dulu. Nanti insyaallah saya sambil masukin nilai mereka mempersiapkan untuk presentasinya. Nggak ada niat untuk ngumpulin," kata Nelty.

Namun aduan dari pihak yang mengaku sebagai salah satu orang tua murid itu telanjur viral. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) langsung mengecek ke sekolah tempat yang bersangkutan mengajar.

"Kalau memang itu benar adanya, itu termasuk mengintimidasi pemilih. Di UU Pemilu dilarang dan merupakan dugaan pelanggaran," ujar Koordinator Divisi Hukum Penindakan dan Pelanggaran Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jufri saat dihubungi detikcom.



Sejumlah politikus pendukung Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin langsung bereaksi. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi juga meminta guru tersebut dievaluasi.

"Kita minta dievaluasi, kasihlah pandangan. Saya juga telepon Pak Bowo, kadisnya, untuk dipanggil. Beliau minta maaf saja," kata Prasetio.

Sementara itu, Gerindra dan PKS, yang merupakan pengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, membela tindakan Nelty meski Nelty telah membantah melakukan doktrin.



Gubernur DKI Jakarta yang kebetulan diusung Gerindra dan PKS, Anies Baswedan justru meminta pihak inspektorat melakukan investigasi. Anies menegaskan akan memberi sanksi jika memang ada pelanggaran.

"Kalau ada pelanggaran, tidak sesuai ketentuan, kita akan (jatuhkan) sanksi sesuai ketentuan. Guru harusnya mendidik, memberikan contoh, dan seluruh aparatur sipil negara harus mengambil posisi netral," kata Anies di gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Perwakilan Dinas Pendidikan DKI sudah menyambangi SMA 87 dan melakukan klarifikasi kepada Nelty. Saat diperiksa, Nelty disebut menangis dan menyesal.

Kesaksian 3 Murid

detikcom kemudian secara acak mencoba bertanya kepada tiga murid yang diajar Nelty pada Rabu (10/10/2018). Mereka dimintai keterangan secara terpisah. detikcom tidak bisa menyebut nama ketiga siswa tersebut berdasarkan permintaan mereka.

Murid pertama memberi pernyataan bahwa Nelty memberikan materi tentang perawatan jenazah di masjid sekolah minggu lalu. Dalam pelajaran itu, memang ditampilkan video tentang korban tsunami dan gempa di Palu, Sulawesi Tengah.



"Ya, saya memandang cuma materi pelajaran saja. Nggak ada yang lain," ucap siswa bertubuh gempal dan berjaket hijau itu.

Sementara itu, murid kedua mengaku seluruh sekolah sudah tahu soal viral dugaan doktrin tersebut. Namun dia membantah ada kejadian seperti yang diviralkan.

"Pasti mau cari tahu soal yang viral itu ya. Yang seperti di viral itu nggak ada," ucap pelajar pria berbadan kurus itu.

Sementara itu, seorang murid perempuan berjilbab lebih memerinci materi yang disampaikan oleh Nelty. Dia mengatakan, dengan video yang ditampilkan, dia memahami bahwa jenazah harus segera dikubur.

"Nggak ada (doktrin anti-Jokowi). Nggak ada disangkutkan dengan politik," ucapnya.
(bag/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed