DetikNews
Selasa 09 Oktober 2018, 18:03 WIB

160 WNI Tertahan di Oman, PPI Minta Jokowi Evaluasi KBRI Yaman

Danu Damarjati - detikNews
160 WNI Tertahan di Oman, PPI Minta Jokowi Evaluasi KBRI Yaman Foto ilustrasi (Internet)
Jakarta - Sekitar 160 mahasiswa Indonesia tertahan di Oman dan kesulitan kembali ke Hadramaut, Yaman, tempat mereka menuntut ilmu. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman mengkritik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaman yang tak responsif membantu mereka kembali ke Yaman.

"KBRI Yaman sebagai pihak yang ditugaskan untuk melayani WNI di Yaman nyatanya lebih memilih untuk duduk manis di meja dan menganggap kabar telantarnya ratusan pelajar yang masuk dalam tanggung jawab mereka sebagai sesuatu yang bisa diabaikan," kata Ketua PPI Yaman, Izzuddin Mufian Munawwar, dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Selasa (9/10/2018).

Keterangan pers itu dia bikin pada 8 Oktober kemarin. Namun mereka tertahan bukan hanya sejak kemarin, tapi juga sudah tertahan di Salalah, Oman, selama tiga pekan. Mereka menunggu solusi dari pihak KBRI supaya bisa menyeberang.


"Mengherankan sekali melihat sekelompok orang yang diutus dan difasilitasi oleh negara dengan uang rakyat berpangku tuangan mengabaikan nasib rakyat Indonesia dan tidak mampu membela harga diri WNI di luar negeri," kata dia.

Dia merasa kinerja KBRI Yaman dalam melayani warga negaranya di perantauan berbeda kualitas dengan pelayanan kedutaan negara-negara lain. Negara-negara lain disebutnya tidak membiarkan warga negaranya terkatung-katung di perbatasan.

KBRI Yaman berkedudukan di Sanaa. Namun, karena Yaman dilanda perang, KBRI Yaman berpindah lokasi kantor di Salalah, Oman, kawasan dekat perbatasan Oman-Yaman. Para penggawa KBRI Yaman dinyatakan Izzudin tak pernah menengok kondisi pelajar-pelajar Indonesia di Hadramaut, tempat sebagian besar orang Indonesia berstudi di Yaman. Hadramaut adalah tempat yang aman, tak terpengaruh konflik lokasi-lokasi lain di Yaman.


"Perlu untuk diketahui bahwa KBRI Yaman selama bertahun-tahun tidak pernah berkunjung dan melihat sendiri kondisi daerah tempat ribuan WNI menuntut ilmu dan hanya mencukupkan diri dengan melihat berita dari layar kaca di sebuah apartemen di pinggiran pantai Dahariz-Salalah (Oman, red)," kata Izzuddin.

Izzudin meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengevaluasi kinerja KBRI Yaman. Harapan mereka, pelayanan KBRI Yaman terhadap WNI di Yaman bisa lebih baik dan tak telantar saat hendak masuk ke Yaman.

"Melihat fakta dan realitas yang ada di lapangan, kami Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Yaman) mengimbau kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait agar meninjau kembali kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berada di Salalah-Oman. Dan memperhatikan pelayanan WNI di Yaman, khususnya para pelajar yang saat ini sedang kesulitan di perbatasan," kata Izzuddin.


Sebelumnya, kabar tertahannya warga Indonesia di Oman karena tak bisa menyeberang ke Yaman disuarakan oleh juru bicara FPI Slamet Maarif. Dia menyebut putri Habib Rizieq Syihab menjadi satu dari ratusan orang yang tertahan dan kini berada di Salalah, Oman. Sebelumnya dikabarkan jumlah mahasiswa dan santri yang tertahan sekitar 200 orang.
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed