DetikNews
Selasa 09 Oktober 2018, 11:57 WIB

Wakil Ketua MPR: Pemahaman Sempit Timbulkan Aksi Terorisme

Akfa Nasrulhak - detikNews
Wakil Ketua MPR: Pemahaman Sempit Timbulkan Aksi Terorisme Foto: dok. MPR
Jakarta - Dalam rangka kunjungan kerjanya di Kalimantan Timur, Wakil Ketua MPR Mahyudin melakukan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR di aula SMK Negeri 1 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Ia menyampaikan tantangan kebangsaan yang dihadapi, baik dari internal maupun eksternal, sesuai TAP MPR Nomor VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.

Di hadapan ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, kepala desa, dan masyarakat umum, Mahyudin menyampaikan, tantangan kebangsaan dari internal yang mengkhawatirkan adalah lemahnya penghayatan agama dan munculnya pemahaman agama yang keliru dan sempit.

Hal tersebut akan melahirkan pemahaman radikal yang memvonis bahwa selain kelompoknya adalah salah dan wajib diperangi. "Pemahaman sempit ini pada akhirnya menimbulkan aksi terorisme, yang bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan bangsa dengan munculnya korban jiwa ketakutan serta rasa tidak aman," kata Mahyudin dalam keterangan tertulis, Selasa (9/10/2018).



Mahyudin menambahkan, hal tersebut terutama muncul pascareformasi. Saat itu Pancasila seperti ditinggalkan, bahkan kurikulum sekolah menghilangkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, sehingga banyak rakyat, terutama generasi muda, tidak lagi di-refresh tentang moral Pancasila.

"Berkurangnya pemahaman Pancasila ditambah era keterbukaan, masuklah berbagai pemahaman agama yang sempit dan merasuk ke dalam diri sebagian masyarakat Indonesia, yang kebetulan belajar agamanya hanya dari internet, bukan dari guru, ulama, dan kiai secara langsung sehingga banyak salah memahami," ujarnya.



Dari eksternal, tantangan kebangsaan yang wajib diwaspadai adalah pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin luas dan persaingan antarbangsa yang semakin tajam yang masuk melalui kemajuan teknologi informasi, seperti media sosial, internet, dan online game yang luar biasa tidak terbendung.

"Kemajuan teknologi informasi modern tersebut, jika tidak disikapi dengan bijak, teknologi tersebut akan merusak sendi-sendi kebangsaan Indonesia, bahkan pemahaman radikalisme masuk juga melalui teknologi informasi ini," ungkapnya.

Karena itu, Mahyudin mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda bangsa, agar bijak menggunakan teknologi informasi. Pergunakan itu untuk kebaikan dan mempermudah aktivitas. Juga harus pintar-pintar menyaring segala informasi hoax atau fakta yang banyak muncul di media sosial.

"Apalagi mendekati Pilpres 2019. Munculnya berbagai kabar hoax, fitnah, dan adu domba sangat banyak. Tanamkan dalam diri bahwa pilpres adalah pesta demokrasi yang biasa-biasa saja. Pilih sesuai pilihan masing-masing tanpa harus berkelahi antarteman, antartetangga, antarkeluarga. Pilpres 2019 adalah pintu masuk untuk Indonesia maju dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu," tandasnya.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed