Sepekan Setelah Gempa dan Tsunami di Sulteng

Muhammad Taufiqqurrahman, Ahmad Bil Wahid, Ibnu Hariyanto - detikNews
Jumat, 05 Okt 2018 21:02 WIB
Salah satu titik terdampak gempa di Petobo, Palu, Sulteng. (Pradita Utama/detikcom)
Palu - Di waktu Magrib, seminggu yang lalu, tepatnya 28 September 2018, getaran hebat yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), membuat warga panik berlarian ke luar rumah. Belum reda jantung mereka berdebar, tsunami menerjang pesisir pantai kota yang berada di ujung teluk itu.

Getaran itu awalnya disampaikan BMKG merupakan gempa 7,7 magnitudo, yang berpusat sekitar 27 kilometer ke arah timur laut dari Kabupaten Donggala, pada pukul 17.02 WIB. Namun kemudian BMKG memperbarui data tersebut menjadi gempa 7,4 magnitudo pada jarak 26 kilometer sebelah utara Donggala.




Gempa diiringi tsunami datang 20 menit kemudian. Gelombang air laut itu menyapu pesisir teluk dan memorakporandakan rumah-rumah. Jalur komunikasi sempat terputus, setidaknya dari Jakarta ke Palu, sedangkan untuk komunikasi dari Donggala benar-benar sulit.

Komunikasi yang sulit inilah yang membuat informasi tentang korban jiwa dan sebagainya belum terangkum dengan jelas. Tengah malam selepas gempa, Menko Polhukam Wiranto menyampaikan landas pacu di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie di Palu mengalami kerusakan sepanjang 500 meter dari keseluruhan 2.500 meter.

Namun yang fatal adalah ambruknya menara kontrol lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) tower yang perlu segera dibenahi. Kenapa?

"Agar kita bisa percepat bantuan personel, kesehatan, tenda, makanan," ucap Wiranto saat itu.

Keesokan harinya, data mengenai dampak gempa dan tsunami mulai sedikit demi sedikit diketahui. Data ini penting agar bantuan yang disalurkan tepat guna dan tepat sasaran.

Namun informasi kerusakan itu setidaknya baru didapat dari Kota Palu, sedangkan wilayah lain belum jelas. Hari berlalu hingga akhirnya didapati informasi yang memprihatinkan dari salah satu kelurahan di Palu, yaitu Petobo. Ada fenomena yang disebut likuifaksi atau pencairan tanah yang terjadi di wilayah itu hingga menyebabkan bangunan berpindah tempat.

Wilayah lain yang terdampak parah adalah Balaroa. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut terjadi gejolak tanah secara vertikal.

"Mekanisnya saat gempa terjadi, ada penurunan, ambles 5 meter. Ada juga jalanan naik setinggi rumah," kata Sutopo.




Selain itu, wilayah lain, seperti Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong, turut terdampak. Data korban jiwa terus melonjak seiring dengan evakuasi dan pencarian korban di sejumlah titik.

Di sisi lain, ketika bantuan belum merata ke seluruh korban selamat, ada penjarahan yang dilakukan sejumlah orang. Penjarahan bukan hanya untuk bahan kebutuhan pokok, tapi juga bahan bakar minyak (BBM). Polisi dan TNI dikerahkan untuk mengamankan situasi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla terjun langsung ke lokasi terdampak. Saat itu Jokowi mengarahkan agar evakuasi menjadi prioritas.

Kini sepekan berlalu sejak bencana itu terjadi. Sedikit demi sedikit geliat kehidupan di Palu mulai tampak. Suasana kota yang sebelumnya gelap gulita karena listrik putus mulai teratasi. Warung hingga toko yang menjadi roda perekonomian mulai buka.




Jalanan yang sebelumnya sepi dari kendaraan bermotor mulai dilintasi. Setidaknya pemandangan itu seperti yang disaksikan detikcom pada malam di hari Kamis, 4 Oktober kemarin.

Untuk korban jiwa, BNPB mencatat data terakhir menunjukkan angka 1.571 orang. Data itu disampaikan Sutopo pada Jumat (5/10) sore.

Pencarian korban masih terus dilakukan karena, menurut Sutopo, diperkirakan korban masih banyak. Selain korban meninggal, sebanyak 113 korban belum ditemukan. Sedangkan 152 orang lainnya diperkirakan masih tertimbun. (dhn/haf)