Kisah Pengungsi Buka Paksa Minimarket demi Dapatkan Makanan

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Kamis, 04 Okt 2018 17:28 WIB
Kondisi Palu pascagempa. (Muhammad Taufiqqurrahman/detikcom)
Palu - Penjarahan tentunya masuk kategori kriminal, apalagi itu terjadi di daerah bencana gempa, seperti Palu, Sulteng. Namun di bawah ini adalah kisah para 'Robinhood' untuk warga-warga sekitar.

Sabtu (29/9) siang, belum 24 jam setelah gempa 7,4 magnitudo menghantam kota ini. Beberapa pemuda di Palu Barat melihat tetangga mereka, khususnya perempuan dan anak-anak, mulai kehausan dan kelaparan. Tidak ada lagi makanan yang tersisa sejak semalam. Tidak jauh dari kediaman mereka, sebuah minimarket terlihat mulai dikerubungi massa dan mereka mencoba membuka minimarket tersebut.

Tidak lama kemudian, pintu depan minimarket itu terbuka, 3 orang masuk dan mencari bagian makanan, seperti mi instan, susu, beras, dan minuman. Barang-barang itu segera dibawa pulang dan dibagikan kepada warga sekitar.



"Itu anak-anak yang saya kenal. Mereka ikut ambil di sana tetapi hanya untuk kebutuhan pokok, khususnya untuk ibu-ibu dan anak-anak," kata salah seorang warga, Ibu Ati, saat berbincang dengan detikcom di Palu, Sulteng, Kamis (4/10/2018).

"Mereka adalah anak-anak yang tinggal di belakang rumah saya. Ada orangnya. Saya tahu tindakan mereka karena mereka membongkar untuk pribadi," sambung tenaga pengajar di sebuah lembaga belajar ini.

Ati mengatakan tidak semua penjarahan itu hanya untuk kepentingan pribadi, meski diakuinya ada juga oknum masyarakat yang memanfaatkan bencana ini untuk meraup keuntungan.

Di lokasi yang berbeda, Radit (37), warga Kabupaten Sigi, Sulteng, mulai berkumpul bersama warga lain di depan minimarket. Gempa telah meluluhlantakkan dan membelah jalan ke permukiman mereka. Sigi gelap, tanpa ada makanan dan terisolasi saat itu.

Berita bahwa diperbolehkannya mengambil barang untuk keperluan makanan bagi penduduk telah masuk di telinga warga. Semua berdiri rapi, membuka paksa minimarket itu dan kemudian mengambil barang makanan di dalamnya. Mereka mengumpulkannya dan kemudian membagikan barang yang ada di sana untuk semua warga.

"Bang, di sini uang tidak ada artinya lagi. Siapa pemerintah yang masuk ke Sigi dalam 1 sampai 3 hari setelah gempa? Tidak ada! Kami juga butuh makan, Bang. Lagi pula berita kami dapatkan bahwa pemerintah sudah izinkan," kata dia.



Radit melanjutkan, kecuali minimarket, semua aset, seperti perbankan, aman di daerahnya. Bahkan warga bersama-sama menjaga ATM untuk tetap aman. Khusus ATM seperti di wilayah Jono Oge, semua mesin mesin penarik uang itu aman. Saking amannya, tidak satu pun petugas yang terlihat berjaga khusus.

"Uang itu kan uang kita juga. Kenapa kita harus curi? Kita bukan orang yang seperti itu. Ada juga harga diri kita untuk tidak ambil uang orang," ujarnya.

"Kecuali bensin ya Bang, itu sudah kebutuhan kita di sini. Mau buat bahan bakar motor dan genset," kata pria tambun ini sambil tertawa.

Para 'Robinhood' lainnya adalah beberapa warga Palu yang rela memberi tumpangan kepada para jurnalis secara gratis saat hendak melakukan aktivitas jurnalisme. Bahan bakar yang mereka dapatkan berasal dari SPBU yang 'terbengkalai'.

Cukup dengan isyarat tangan jempol ke atas, umumnya mereka akan singgah untuk memberi tumpangan.

"Mau ke mana? Ikut saja Bang, nanti saya lewat dekat Balaroa, turun di sana saja. Bensin aman kok dari dari SPBU sana. Jurnalis penting, biar orang tahu susahnya kami di sini," kata pemilik mobil bak terbuka sambil tertawa.




Tonton juga 'Koki Loreng, Di Balik Sajian untuk Pengungsi di Palu':

[Gambas:Video 20detik]

(rvk/asp)