Begini Cara Rahmat Lolos dari Gulungan Tsunami Aceh dan Palu

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 03 Okt 2018 16:15 WIB
Foto: Rahmat di Kantor Wali Kota Banda Aceh (Agus-detik)
Aceh - Punya pengalaman kena tsunami di Aceh, Rahmat Saiful Bahri menyelamatkan diri saat tsunami memporak-porandakan Palu, Sulawesi Tengah. Ketika gelombang laut menyapu daratan, dia naik ke atap hotel. Kala air surut, ia lari ke gunung.

Saat gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Sulteng, Rahmat sedang berada di kamar mandi di lantai 3 Hotel Swiss Bellhotel. Lokasi hotel ini terpaut beberapa meter dari bibir pantai.

Kala itu, dia hendak mandi untuk bersiap-siap mengikuti Festival Pesona Palu Nomoni. Tiba-tiba bumi bergoyang, dan Rahmat bergegas mengambil pakaian lalu lari ke bawah.

Nah saat hendak turun ke lantai satu, Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh ini melihat gelombang laut mulai menyapu darataan. Kaca hotel pecah dan berserakan. Lantai satu amblas. Di tengah kepanikan, Rahmat kembali naik ke lantai paling atas untuk menyelamatkan diri.

"Saya waktu itu ingin naik ke atap hotel lagi karena hotel itu ada atapnya. Karena saya sudah pengalaman tsunami dulu di Aceh, jadi cari tempat yang tinggi makanya saya naik ke atas," kata Rahmat dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Balai Kota Banda Aceh, Rabu (3/10/2018).

Rahmat memilih bertahan di lantai atas. Setengah jam berselang, pihak hotel memintanya untuk turun. Dia berjalan di tengah pecahan kaca. Kaki Rahmat terluka. Di bawah, dia melihat air masih menggenangi setinggi lutut. Sementara dokumen dan barang-barang di lantai satu hotel hilang dibawa air.

Atas perintah pihak hotel, Rahmat kemudian dievakuasi ke Bukit Silae. Jalan sepanjang jalur evakuasi retak-retak. Rombongan hotel berjalan sejauh satu kilometer menuju Bukit Silae. Setelah istirahat sejenak, situasi dipastikan belum aman. Gempa susulan masih mengguncang.

Di tengah malam buta, Rahmat dan rombongan lain kembali melanjutkan perjalanan untuk naik ke lokasi lebih tinggi. Mereka akhirnya bertahan di sana selama dua malam satu hari. Beberapa warga yang tinggal di lokasi, memberinya makanan dan minuman.

"Waktu itu kami berjalan ke bukit dalam suasana gelap. Listrik mati," jelas Rahmat.

Baru dua hari kemudian dia kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangnya. Setelah itu, Rahmat menuju bandara Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu, Sulawesi Tengah. Dia bertahan di sana beberapa malam sambil menunggu pesawat. Pihak bandara sempat menawarinya agar dapat pulang dengan kapal laut.

"Tapi saya tidak mau. Waktu saya ke Palu tanggal 27 September, kebetulan saya sudah membeli tiket pulang yaitu tanggal 2 Oktober. Ketika di bandara saya perlihatkan tiket saya dan akhirnya dapat pesawat," ungkap pria yang sudah dua kena tsunami ini.

Menurut Rahmat, pemandangan di bandara Palu saat ini masih dipenuhi oleh orang-orang yang ingin meninggalkan lokasi gempa.

"Eksodus masyarakat yang besar-besaran. Keluar semua dari Palu. Kondisi di sana tidak ada makanan dan minuman, listrik mati, BBM tidak ada. Mungkin masyarakat di sana khawatir kelaparan atau bagaimana maka berbondong-bondong orang keluar dari Palu," ungkapnya.


Google Bantu Mencari Korban Palu dengan Google Person Finder, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



(agse/asp)