DetikNews
Kamis 27 September 2018, 15:30 WIB

Kisah Lulusan Psikologi UGM yang Mantap Jadi Transmigran ke Kaltara

Akfa Nasrulhaq - detikNews
Kisah Lulusan Psikologi UGM yang Mantap Jadi Transmigran ke Kaltara Foto: Dok Kemendes
Jakarta - Salah seorang calon transmigran asal Yogyakarta, Triawan (44) bertekad memanfaatkan program transmigrasi pemerintah untuk bisa berkembang. Ia merupakan satu dari 72 calon transmigran asal Dusun Mandingan, Desa Ringinharjo, Bantul, Yogyakarta yang diberangkatkan menuju Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Bulungan, Kalimantan Utara.

Untuk pertama kalinya pemberangkatan calon transmigran dilaksanakan dengan menggunakan pesawat. Bus melaju dari Bangsal Kepatihan menuju Bandara Adisucipto Yogyakarta, untuk selanjutnya akan menerbangkan mereka ke Kalimantan Utara.

Secara keseluruhan, jumlah transmigran yang diberangkatkan terdiri dari 5 KK (17 jiwa) asal Kota Yogyakarta, 9 KK (32 jiwa) asal Kabupaten Sleman, dan 7 KK (23 jiwa) asal Kabupaten Bantul.


Triawan yang merupakan seorang Sarjana Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan meski hidupnya di Bantul, Yogyakarta sudah nyaman dengan usahanya yang cukup untuk kehidupan sehari-hari, namun dia memiliki mimpi dan cita-cita untuk anaknya.

"Saya usaha laundry sudah lima tahunan tapi seperti tidak berkembang, untuk sekadar hidup sehari-sehari tidak masalah, tapi saya lihat anak semakin besar. Tidak apa-apa saya susah-susah yang penting anak bahagia. Kadang saya mikir di Bantul hidup sudah enak, enak ya enak, santai. Istri juga buka pesanan makanan. Tapi di sini istri gak bisa peternakan juga (istrinya sarjana peternakan), saya gak ambil psikologi profesi jadi gak bisa praktik juga. Ya sudah kita transmigrasi, istilahnya di modalin pemerintah, asal kita bisa gerak," kisah Triawan, Kamis (27/9/2018).

Triawan telah mantap memutuskan berangkat trasmigrasi bersama istrinya. Dengan neninggalkan anak-anak yang masih berusia 7 dan 3 tahun di Bantul, hal itu menurutnya supaya bisa konsentrasi mencari nafkah di tempat transmigran dan anak-anak mendapat pendidikan lebih baik.

"Intinya untuk mengubah kehidupan keluarga saya lebih sejahtera. Untuk masalah emosional seperti kangen iya, berpisah dengan anak itu berat, tapi saya punya tekad untuk lebih baik lagi, jadi saya bertransmigrasi," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Triawan mengungkapkan bahwa keputusannya menjadi transmigran bermula informasi dari saudaranya, lalu ia mencari informasi sendiri dari internet dan mulai tertarik.

"Lihat di sekitar saya sudah stagnan untuk mengembangkan diri siapa tahu di sana bisa berkembang lebih baik. Untuk hidup di sini mungkin bisa, tapi untuk berkembang agak mentok," terangnya sambil tertawa.

Dengan tekad kuat dan dukungan keluarga, akhirnya ia daftar ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul. Pada 2017, dirinya sempat mencoba daftar namun karena daerah tujuan yang ia cari (Bulungan) belum buka, akhirnya ia urung, tahun 2018 ia daftar lagi dan mendapat tempat yang diinginkan.

Di tempat yang baru, para calon transmigran tersebut akan mendapatkan rumah, tanah 2 hektare yang terdiri dari lahan 1 dan 2, juga mendapatkan jaminan hidup selama lima tahun pada masa transisi di tanah kehidupan baru.

Sementara itu, Triawan berencana untuk fokus pada pertanian. Bahkah ia sudah menyiapkan pembekalan ilmu dengan belajar dari internet juga buku, karena dasar pendidikannya bukan pertanian, dan calon transmigran mendapat pelatihan sebelum berangkat.

"Kami dapat pelatihan dua kali di kabupaten dan satu kali di provinsi. Sebagai basic cukup lumayan untuk kita memulai. Semua ada prakteknya seperti cara menanam, mengolah tanah, pembibitan, vaksin, dan menetaskan telur," ujar Triawan.

Selain itu, Triawan juga mendapat pelatihan dari Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, yang pelatihannya lebih terfokus.

"Praktiknya difokuskan, dilatih untuk memanfaatkan lahan basah, karena di Bulungan memang banyak lahan basah," terangnya.


Meski Triawan tidak meniliki dasar pendidikan pertanian, tapi menurutnya kemampuan bisa diasah, ia pun merasa tertolong dengan istrinya yang memiliki dasar pendidikan Sarjana Peternakan. Kondisi lahan di Bulungan cocok untuk pertanian, peternakan, dan perkebunan.

"Kalau anak nanti masalah pendidikan dasar dan menengah bisa di sana, tapi untuk kuliah balik ke Jogja lagi. Anak lah yang utama. Kalau saya mikir sendiri, di sini sudah dapat warisan sudahlah, kalau saya mikirin egois diri saya saja ya sudah enak di sini. Tapi mikirin anak," pungkasnya.

Baca berita lainnya dari Kemendes di sini.
(ega/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed