"Begini, Bu Mega kaget sih dan kehilangan tentu saja karena Pak KKG (Kwik Kian Gie) kan teman lama, bahkan menteri kabinet beliau," ujar Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari, Kamis (27/9/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menindaklanjuti arahan Mega, Eva menegaskan PDIP akan lebih aktif mengajak Kwik berdiskusi. Kwik sendiri kini merupakan penasihat pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, rival capres-cawapres usungan Mega dkk, yaitu Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.
"Memang kita seharusnya merawat komunikasi secara personal dengan para senior karena kita tahu hati Pak Kwik ke PDIP sebagai rumah beliau. Tim TKN sudah mengundang beliau untuk jadi narsum pada hari Jumat minggu lalu (21/8)," kata Eva.
"Di kesempatan itu, beliau klarifikasi bahwa posisinya adalah penasihat pribadi Pak PS, tidak masuk struktur tim resmi PS-SU. Ke depan, PDIP akan melanjutkan berkomunikasi dengan beliau untuk menjadi narsum di diskusi-diskusi isu strategis," imbuh Eva.
Cerita kemarahan Mega disampaikan Kwik dalam diskusi terbuka bersama cawapres Sandiaga Uno di media center kubu Prabowo, Jl Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (26/9). Kwik awalnya bercerita soal kader PDIP yang meminta penjelasan status Kwik selaku penasihat capres Prabowo Subianto. Kwik menjelaskan statusnya hanya sebagai penasihat Prabowo tentang ekonomi.
Saat itulah Kwik bercerita soal kemarahan Megawati kepada kader PDIP. Menurutnya, Megawati marah karena PDIP tak pernah mengajaknya berdiskusi.
"Lalu, satu hari kemudian saya mendapat telepon, WA (WhatsApp) mengatakan Ibu Megawati marah besar. Tetapi tidak terhadap saya. Ibu Megawati marah besar terhadap tim PDIP, mengapa tidak pernah mengajak diskusi saya. Nah, lalu saya ditanya, apakah bersedia berdiskusi dengan mereka, sangat bersedia," terang Kwik.
Saksikan juga video 'Politikus PDIP Kwik Kian Gie Bantah Masuk Timses Prabowo-Sandi':
(gbr/dhn)











































