DetikNews
Selasa 25 September 2018, 21:03 WIB

Tentang Obat Penenang di Balik Perempuan Terobos Jokowi

Aisyah Kamaliah, Kanavino Ahmad Rizqo, Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Tentang Obat Penenang di Balik Perempuan Terobos Jokowi Penerobos konvoi Jokowi ketika ditepikan (Foto: dok Istimewa)
Jakarta - Perempuan penerobos iring-iringan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut mengkonsumsi obat yang mengandung benzodiazepine. Obat itu disebut polisi bukanlah obat terlarang, lalu apa?

"Itu bukan obat terlarang, tapi harus dengan resep dokter. Kayak semacam obat penenang, obat tidur," kata Kanit Laka Lantas Polres Jaktim AKP Agus saat dihubungi detikcom, Selasa (25/9/2018).




Perempuan berinisial ADL itu mengemudikan mobil bersama seorang rekannya pada Senin (24/9) pagi ketika rombongan Jokowi melintas di Tol Cimanggis. Di ruas tol itulah dia menerobos iring-iringan sehingga dipinggirkan.

Namun ADL kembali memacu mobilnya dan menerobos iring-iringan Jokowi lagi hingga akhirnya ditangani polisi. Saat diperiksa, polisi tidak menemukan narkoba atau obat terlarang di mobil ADL, tapi saat dicek urinenya, ADL positif mengkonsumsi obat penenang itu. Apa sebenarnya obat itu?

Beberapa waktu lalu, detikcom pernah mewawancarai dr Tribowo T Ginting, SpKJ (K), dari RSUP Persahabatan, Jakarta. Menurut Tribowo, obat itu umumnya digunakan pasien yang terdiagnosis salah satunya mengalami gangguan kecemasan.

"Pemberian benzodiazepine harus sesuai indikasi. Artinya, pasien harus diwawancarai, diperiksa, dan dieksplorasi mengenai keluhan dan gejalanya," kata Tribowo.

Obat ini lazim digunakan oleh pasien gangguan kejiwaan yang mengalami gangguan kecemasan, gangguan panik, kejang-kejang, dan insomnia. Efek penggunaannya akan mengakibatkan timbulnya rasa nyaman dan beberapa memiliki efek mengantuk. Bila digunakan dalam dosis yang tepat, obat ini sebenarnya tidak akan memberikan efek halusinasi pada penggunanya.

Namun, pasien yang sudah memiliki ketergantungan, perlu waspada karena efeknya bisa mengarah pada timbulnya efek kecemasan kembali, iritabilitas, insomnia, dan lainnya. Efek terparah dari penyalahgunaan zat ini adalah delirium atau keadaan ketika penggunanya mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya, linglung, mengalami disorientasi, dan tidak mampu berpikir secara jernih.




Selain itu, mungkin saja muncul depresi pernapasan bila dipakai secara berlebihan yang tentunya akan mengancam keselamatan jiwa orang yang menyalahgunakan zat benzodiazepine.

Beberapa kasus berkaitan dengan zat itu sempat mencuat ke publik seperti seorang dokter bernama dr Ryan Helmi menembak mati istrinya sendiri setelah mengaku mendapatkan bisikan. Pemeriksaan urine dr Ryan menunjukkan ada kandungan benzodiazepine yang diakui olehnya ia konsumsi sesuai petunjuk dokter.

Peristiwa lainnya terkait seorang perempuan berinisial VM yang berjalan nyaris bugil di daerah Jakarta Barat. Menurut polisi, sang perempuan memiliki gangguan kepribadian skizoafektif dan berhalusinasi saat dirinya bugil di tempat umum.
(dhn/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed