Alasannya, Rommy melihat di sejumlah pilkada sebelumnya, ada kelompok-kelompok yang sengaja menggunakan politik identitas untuk memenangkan calon yang diusung.
"Politik identitas menimbulkan saling curiga antar kelompok. Kecurigaan ini membuat pesta demokrasi yang seharusnya dilalui dengan ceria dan penuh kegembiraan, malah bisa menimbulkan bibit-bibit perpecahan," jelas Rommy dalam keterangannya, Kamis (20/09/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui Rommy, bila hoax atau fitnah tersebut sudah menyebar bahkan melalui media sosial, maka akan sulit dihapus. Maka dari itu, masyarakat yang aktif bermedia sosial harus mampu menyaring dengan teliti berita-berita yang beredar itu.
"Penggunaan hoax dan fitnah ini semakin marak seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial," lanjut dia.
Harapan Rommy ke depannya, semua pendukung baik itu petahana (incumbent) maupun penantang, bisa mengedepankan persatuan bangsa. Semua pihak harus terpacu untuk menang dalam kontestasi politik dengan cara yang baik.
"Hindari praktik politik dan kampanye yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Kita jaga perdamaian ini, karena inilah aset terbesar bangsa Indonesia," pungkas Rommy. (ega/idr)











































