DetikNews
Rabu 19 September 2018, 22:12 WIB

'Matamu', Sebuah Pesan Buwas Buat Mendag

Gibran Maulana Ibrahim, Marlinda Oktavia Erwanti, Selfie MJ, Putri AY - detikNews
Matamu, Sebuah Pesan Buwas Buat Mendag Foto ilustrasi: Budi Waseso (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Budi Waseso (Buwas) menolak impor beras lagi. Soalnya, tak ada lagi ruang di gudang untuk menampung beras. Respons Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kemudian membuat Buwas mengumpat.

Buwas yang merupakan Direktur Utama Perum Bulog itu menjelaskan, pihaknya harus menyewa gudang Rp 45 miliar demi menampung beras, termasuk menampung gelontoran beras impor. Bila ada lagi beras impor yang datang, entah harus ditaruh di mana lagi.

"Kita juga terpaksa meminjam dan menyewa gudang itu cost besar untuk Bulog. Maka nggak efisien kalau kita impor terus. Kalau ada perintah impor lalu saya harus lakukan, berarti bebannya tambah lagi. Harga jadi tambah naik karena dolar AS," kata Buwas di Jakarta, Jumat (14/9/2018).



Bahkan Bulog juga harus menyewa gudang milik TNI demi menampung beras. Namun Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tak merasa itu sebagai urusannya.

"Itu kan sudah diputuskan di Rakor Menko (Rapat Koordinasi Menteri Perekonomian) jadi urusan Bulog. Jadi nggak tahu saya, bukan urusan kita," jelas dia di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Buwas mengatakan total beras yang ditampung Bulog saat ini ada 2,4 juta ton. Diperkirakannya, akan ada 2,7 ton di akhir tahun nanti. Sedangkan Enggar mengatakan stok di gudang Bulog saat ini sebanyak 2,2 juta ton, sebanyak 820 ribu ton di antaranya adalah beras non-impor.



Mendengar respons Enggar terhadap keluhan terkait penuhnya gudang Bulog, yakni respons yang berbunyi "bukan urusan kita", Buwas panas. Terucaplah umpatan "matamu!"

"Saya bingung ini berpikir negara atau bukan. Coba kita berkoordinasi itu samakan pendapat, jadi kalau keluhkan fakta gudang saya bahkan menyewa gudang itu kan cost tambahan. Kalau ada yang jawab soal Bulog sewa gudang bukan urusan kita, mata mu! Itu kita kan sama-sama negara," papar dia di Perum Bulog, Jakarta Selatan, Rabu (19/9/2018).

Umpatan ini bukan sekadar umpatan, melainkan ada pesan yang terkandung ditujukan untuk Enggar. Pesan itu adalah pengutamaan koordinasi sebagai bagian dari pemerintahan. Buwas berharap agar Kemendag dan Bulog bisa bersinergi mendorong langkah pemerintah menjaga pasokan beras.

"Kita kan aparatur negara jangan saling tuding-tudingan, jangan saling lempar-lemparan itu pemikiran yang tidak bersinergi," papar dia.




Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Muhammad Ridho/detikcom)

Pengamat politik dari Median, Rico Marbun, menilai Presiden Jokowi harus turun tangan menengahi kegaduhan Buwas versus Enggar. Reaksi para politikus parpol menyusul kemudian.

PPP dan Partai NasDem sama-sama menilai Presiden Jokowi tak perlu turun tangan hanya untuk menengahi Buwas dan Enggar. Cukup Menko Perekonomian Darmin Nasution yang turun tangan. Golkar menyayangkan Buwas dan Enggar yang berpolemik di depan publik seperti itu. seharusnya mereka bisa membahas masalah dengan "kepala dingin".

"Koordinasi dan saling memahami tugas masing-masing lembaga ini sangat diperlukan," kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily kepada detikcom.



Wakil Ketua Komisi IV Michael Wattimena yang membidangi pangan membela Buwas. Politikus Partai Demokrat ini melihat memang gudang-gudang Bulog di berbagai daerah sudah kepenuhan. "Yang pemerintah lakukan adalah impor, impor, lalu surplus hingga akhirnya beras mereka tidak berdaya di lapangan," kata Michael.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga membela Buwas. Fahri memaklumi jika Buwas bicara frontal di media terkait polemik tersebut. Bagi Fahri, sikap Buwas sangat wajar karena merasa pendapat dan masukannya tak didengar.

"Mendag-nya di-drive oleh sesuatu yang kita tidak tahu ngimpor sendiri, nggak mendengar itu Kepala Bulog-nya. Sekarang Kepala Bulog-nya itu ngomong nyembur keluar kayak gitu karena orang nggak tahan lagi. Dia bilang sekarang nggak usah rapat-rapat karena rapat bagian dari penukangan-penukangan," kritik Fahri.



Lalu bagaimana respons lanjutan dari Enggar sendiri? Saat ditanya apakah pihaknya tak membantu Bulog dalam hal menyewa gudang, yang kata Buwas menghabiskan Rp 45 miliar itu, Enggar menyatakan itu bukanlah urusannya.

"Itu urusan koorporasi. Itu urusan koorporasi. Kalau itu (sewa) mahal ya apa urusan saya. Itu urusan perusahaan dia meminta izin dua juta ton beras," kata Enggar menanggapi.

Lebih jauh lagi ketika ditanya soal kritikan buas soal "matamu", Enggar malah berbalik badan dan menanggapi pertanyaan dari wartawan lain.

"Pak katanya 'matamu' pak katanya, kalau (sewa gudang) bukan urusan Kemendag?" tanya wartawan. Enggar tak menjawab dan hanya berbalik badan meninggalkan kerumunan media.

Enggar menyatakan seharusnya kapasitas gudang Bulog itu 4 juta ton, maka seharusnya Bulog masih bisa menampung beras impor. Ada kuota impor 2 juta ton beras. Pemerintah tak asal menetapkan kuota impor 2 juta ton. Bahkan ia mengaku sudah melakukan perhitungan terkait kapasitas gudang Bulog untuk menetapkan kuota impor.



(dnu/jor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed