DetikNews
Selasa 18 September 2018, 12:36 WIB

Polri Ajak Mahasiswa Ikut Atasi Radikalisme di Kampus

Zunita Putri - detikNews
Polri Ajak Mahasiswa Ikut Atasi Radikalisme di Kampus (kiri-kanan) Komandan Seskoal Laksda TNI Amarulla Octavian, Dirtap Translai Universal Lemhannas RI Brigjen Mulyatno, dan Kasubit II Ditsosbud Baintelkam Polri Kombes Hadi Wiyono (Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom)
Depok - Radikalisme dan terorisme sudah memasuki lingkungan pendidikan tinggi Indonesia. Polri mengajak mahasiswa ikut berperan aktif memberantas kedua hal yang dapat mengancam kesatuan Indonesia itu.

"Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2017 bilang ada 39 persen terpapar radikalisme di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Kemudian BNPT di tahun 2017 menyatakan bahwa radikalisme sudah masuk ke pendidikan, itu peran bahwa radikalisme ada," kata Kasubit II Ditsosbud Baintelkam Polri, Kombes Hadi Wiyono, Senin (18/9/2018).

Hadi mengucapkan hal itu dalam seminar bertajuk 'Peran dan Fungsi Mahasiswa dalam Mengetahui Jenis-jenis Ancaman Perpecahan NKRI' yang digelar di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (18/9/2018). Hadi mengatakan mahasiswa memegang peran penting dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme.


"Dalam rangka menjaga keutuhan NKRI, seluruh komponen semua yang populer pendukung termasuk masyarakat kampus wajib berperan aktif," imbuhnya.

Hadi kemudian membeberkan ciri-ciri seorang yang terpapar radikalisme di Indonesia. Dia menyebut radikalisme ditandai dengan munculnya sikap fanatik hingga eksklusif.

"Ada empat ciri bisa kita singkat menjadi 'fire', pertama fanatik yaitu selalu merasa benar sendiri menganggap orang lain salah. Tidak usah jauh, di lingkungan kecil pasti ada teman-teman kita model kayak gini ini perlu diwaspadai," ucap Hadi.


"Lalu, intoleran ini perlu diwaspadai karena kita empat pilar tadi. Ketiga ada revolusioner yaitu cenderung menggunakan cara kasar untuk mencapai tujuan," sambungnya.

Ciri keempat, seseorang yang terpapar radikalisme cenderung eksklusif yakni tidak membaur dengan kehidupan sekitarnya. Hadi mengatakan keempat ciri-ciri ini dapat dikenali.


Selain itu, Hadi juga menjelaskan metode propaganda yang dilakukan para terorisme untuk membujuk seseorang agar masuk dan mengikuti ajaran mereka. Dia menyebut perantara yang digunakan mulai dari buku hingga pengajian.

"Metode propagandanya itu kalau zaman dulu buku, zaman sekarang bisa pakai website, medsos, radio streaming, dan ada juga yang melalui pengajian, diskusi, juga di kelembagaan seperti sekolah, majelis dan lainnya," jelasnya.

Hadi mengatakan beberapa langkah yang dapat dilakukan sivitas akademik untuk menangkal radikalisme di Indonesia yakni dengan menolak tegas ajakan gabung kelompok radikal dan berperan mencegah radikalisme di lingkungan sekitar. Dia mengatakan upaya pemberantasan radikalisme di perguruan tinggi akan berhasil jika semua elemen menjalankan peran tersebut dengan tulus.


Terakhir, Hadi pun membeberkan apa saja yang sudah dilakukan Polri untuk menangkal radikalisme dan mengatasi ancaman perpecahan NKRI di Indonesia.

"Upaya Polri yang telah dilakukan ada beberapa pendekatan yaitu hard approach, dan soft approach dengan kontra idelologi, dan deradikalisasi. Ini program yang ketika orang-orang tahanan perlu dibina kembali dan juga upaya preemptive strike," ungkap Hadi.

Dalam seminar ini hadir pula Dirtap Translai Universal Lemhannas RI, Brigjen Mulyatno dan Komandan Seskoal, Laksda TNI Amarulla Octavian.


Saksikan juga video 'Waspada! Radikalisme Incar Kader Profesional di Kampus':

[Gambas:Video 20detik]


(zap/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed