e-Tilang Bakal Diuji Coba di Sudirman-Thamrin, Khusus Pelat B

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Sabtu, 15 Sep 2018 17:59 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Penilangan elektronik atau E-TLE (Electronic Traffic Law Enforcement) bakal segera diuji coba di ruas Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Oktober 2018. Fokus awal e-Tilang hanya untuk kendaraan berpelat nomor B.

"Ke B dulu. Kalau nanti sudah beberapa nomor ini, harus connect dengan Korlantas dong. Sementara ini Jakarta dulu lah," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf kepada wartawan, Sabtu (15/9/2018).

Yusuf mengatakan, jumlah kendaraan yang mempunyai pelat nomor selain B di Jakarta tak terlalu banyak. Menurut dia, apabila penilangan juga dilakukan kepada seluruh pelat nomor kendaraan, itu harus dikoordinasikan dengan Korlantas Polri.



"Jadi kalau untuk sinkronisasi data, sementara ini kita peruntukkan, berlakukan, kepada pelat nomor B. Nah ini perlu dicatat. Paling hanya berapa persen sih (jumlah kendaraan selain pelat nomor B). Tidak sampai 10 persen," ujar Yusuf.

Polisi saat ini masih mendata jumlah kamera yang dibutuhkan di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Menurut Yusuf, kamera yang akan dipasang mampu melihat secara jelas pelat nomor kendaraan yang melanggar sekalipun pada malam hari.

"Kameranya ada spesifikasinya. Yang jelas itu dalam keadaan gelap pun bisa terang. Dan ini sudah 90 persen akurat," tuturnya.

Selain itu, penerapan e-Tilang ini juga bakal mengurangi jumlah personel yang berjaga di lapangan. Petugas nantinya akan berjaga di pos polisi dan akan langsung turun ke lapangan jika terjadi peristiwa darurat.

"Jadi nanti semakin lama, anggota di lapangan semakin berkurang. Karena diganti dengan alat ini. Anggota datang ke lapangan itu, nanti ke depannya ya ini. Datang kalau ada emergency saja. Ada demo, ada pengalihan arus..
Anggota masih ada di pos, ada demo, atau ada kejahatan yang perlu kehadiran. Ada kebakaran, emergency lah," imbuh dia.

Lebih jauh, Yusuf berharap e-Tilang ini dapat menciptakan budaya masyarakat dalam berlalu lintas. Masyarakat, menurut Yusuf, harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas meskipun tak ada petugas kepolisian.

"Ini juga untuk membuat efek, detterent effect, jadi berdampak. Minimal kalau sudah ada kamera yang mengawasi. Kamera kan 24 jam. Jadi nanti pengguna jalan itu supaya tidak berpikir bahwa saya akan tertib kalau ada polisi. Jadi ini untuk merubah budaya, merubah culture. Kalau merubah aturan, instrumental aturan. Gampang. Aturannya diganti. Selesai. Merubah mindset diawasi mungkin selesai. Tapi kalau merubah budaya. Itu perlu proses. Yang ngawasi itu alat," paparnya.




Tonton juga 'Kapolri: e-Tilang Terobosan untuk Tekan Korupsi!':

[Gambas:Video 20detik]

(knv/nkn)