Bagir Manan Palsu Marahi Ketua PT Jawa Barat
Jumat, 12 Agu 2005 15:35 WIB
Bandung - Ada-ada saja ulah orang iseng ngerjain pejabat yang sedang mendapat sorotan. Kali ini pejabat yang kena tipuan orang iseng adalah Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat Nana Juwana.Ketua Majelis Hakim yang memenangkan gugatan pasangan Badrul Kamal-Syihabuddin ini ditelepon oleh orang yang mengaku Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan. Telepon ruang kerjanya berdering di sela-sela menerima wawancara beberapa wartawan, Jumat (12/8/2005) di kantornya, Jalan Dipatiukur, Bandung. Saat itu, para wartawan menemuinya untuk menanyakan dugaan pertemuan rahasia di sebuah restoran di Jl. Pasteur, menjelang perkara diputuskan awal Agustus lalu. Tentu saja, karena si penelepon mengaku Bagir Manan, Nana dengan sigap buru-buru menerima telepon tersebut.Suara dari seberang telepon langsung menanyakan kenapa Nana Juwana mengapa tidak hadir dalam rapat di Mahkamah Agung yang membahas soal putusan Pilkada Depok. Selain itu, orang di ujung telepon itu juga menanyakan kenapa putusan itu diambilnya. Percakapan ini berlangsung singkat cuma sekitar 2 menit. Saat menerima telepon ini, ekspresi muka Nana Juwana terlihat serius, meski sejak awal sudah curiga karena suara Bagir Manan kali ini berbeda dari biasanya. Tapi siapa tahu yang menelepon ini betul-betul Bagir Manan sungguhan. Maka, Nana pun terus meladeni percakapan lewat telepon tersebut. Hanya selama percakapan, Nana menjawabnya dengan Bahasa Sunda. Namun si penelepon tak menjawab. Dari situlah ia yakin kalau yang menelepon dirinya adalah Bagir Manan palsu."Saya kenal baik dengan Pak Bagir Manan. Termasuk para ajudannya. Kalau menelepon, kami biasa menggunakan bahasa Sunda. Saat mengangkat telepon tadi saya sudah ragu. Suaranya lain," ungkap Nana Juwana sambil tersenyum."Ia tak mengerti bahasa Sunda. Saya memang bukan orang Sunda. Tapi cukup mengerti. Percakapan saya dengan Pak Bagir selalu pakai bahasa Sunda," ungkapnya sambil tertawa lepas. Saat ditanya balik oleh Nana Juwana, orang iseng ini langsung menutup teleponnya."Ya, beginilah. Bagi hakim ini sudah biasa. Saya sudah punya pengalaman. Makanya selama persidangan apa pun saya selalu tutup telepon saya. Pernah saya dapat ancaman melalui SMS. Isinya bikinsakit hati. Saya disangka menerima uang. Tapi ini tidak terkait dengan kasus ini lho. Sudah lama," ungkap Nana Juwana yang kini berusia 63 tahun ini.Nana Juwana langsung geleng-geleng kepala sambil menceritakan kejadian tersebut kepada wartawan.Menurut dia, kejadian telepon iseng ini merupakan kejadian pertama yang dialaminya dari proses persidangan hingga putusan. Ia mengaku selama proses persidangan hingga saat ini telepon selulernyadimatikan. Menurut dia, sanak keluarganya juga marah karena tak bisa menghubungi dirinya.
(jon/)











































