DetikNews
Selasa 11 September 2018, 21:35 WIB

Kontroversi PD yang Tak Ingin Gerindra Besar Sendiri

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Kontroversi PD yang Tak Ingin Gerindra Besar Sendiri Foto: Andi Arief (Samsudhuha Wildansyah/detikcom)
Jakarta - Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ingin partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno turut mendapat dampak elektoral hasil pilpres, bukan hanya Partai Gerindra yang besar sendirian. Pernyataan Andi menuai beragam reaksi dari koalisi.

"PAN, PKS dan Demokrat di pemilu berbarengan berat. Di satu sisi sedang mencari dukungan agar partainya tetap lolos dan bertahan di parlemen, di sisi lain harus mencari dukungan untuk presiden dan wakilnya bukan dari partai sendiri," ujar Andi lewat Twitter, Selasa (11/9/2018).

"Harus ada seni agar Gerindra tak besar sendirian," tegas Andi.


Koalisi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS disebut Andi harus mendiskusikan seni yang tinggi itu agar keuntungan elektoral menjadi proporsional di saat capres dan cawapres yang diusung hanya mewakili Gerindra. Gerindra bersama PAN, PKS dan Demokrat mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Prabowo merupakan Ketum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Sandi dulunya Gerindra, namun saat memutuskan maju cawapres, dia menanggalkan keanggotaannya di partai berlambang kepala garuda itu.

Soal saran diskusi membahan keuntungan elektoral ini, Andi berharap Gerindra bisa menerima. Lalu, bagaimana respons Gerindra?


Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman mengatakan saran Andi akan ditanggapi secara positif. Baginya, kerja sama antarpartai pengusung mesti kuat. Habiburokhman memandang semua partai pengusung akan mendapat keuntungan elektoral andai bekerja keras di pilpres.

Senada dengan Habiburokhman, Waketum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad memaklumi sikap Andi. Andi disebutnya sedang menyampaikan harapan. Dasco siap menjadi jembatan penghubung harapan Andi.

"Karena kita ini kan harus, seperti Pak Andi Arief bilang, harus cari suara di pileg, harus cari suara di pilpres dan itu seni yang tinggi kalau menurut Andi Arief. Saya sepakat. Karena itu nanti saya akan usulkan bagaimana kita duduk bersama-sama mencari formula yang paling baik supaya semua koalisi mendapatkan dampak elektoral yang sama bagus," ucap Dasco.


Dua politikus PKS, yaitu Direktur Pencapresan Suhud Aliyudin dan Ketua DPP Mardani Ali Sera menyatakan setuju dengan usulan Andi. Bagi PKS, sudah seharusnya partai pengusung koalisi mendapat keuntungan elektoral pencapresan Prabowo, bukan hanya Gerindra saja yang besar sendiri, seperti kata Andi.

"Jika kemenangan pilpres tidak linear atau tidak diikuti kemenangan di pileg, akan terjadi kelambanan pengambilan keputusan di parlemen. Ini akan buruk pada sistem presidensial," ucap Mardani.


Bagaimana dengan PAN? Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan mereka punya strategi agar partai berjaya di pileg. Eddy menegaskan PAN siap memenangkan Prabowo-Sandi dengan ikhlas.

"Keunggulan PAN selama ini ada di para calegnya, sehingga kami berkeyakinan jika caleg-caleg kita sudah bergerak masif, perjuangan kita untuk mencapai target di pileg akan tercapai," urai Eddy.

Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay menyebut saran Andi Arief soal pembahasan pembagian dampak elektoral pada Pilpres 2019 ke partai koalisi perlu ditindaklanjuti. Menurut Saleh, dari awal semua pihak sebetulnya sudah mulai membicarakan masalah tersebut.

"Saya kira teman-teman di Gerindra juga pasti setuju. Mereka juga tentu memahami persoalan sekat-sekat elektoral akibat perbedaan dukungan dalam pilpres dan pileg," kata Saleh.
(gbr/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed