NasDem: Jika Hanya Kritik, Oposisi Buat Rupiah Kian Gonjang-ganjing

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Rabu, 05 Sep 2018 13:37 WIB
Sekjen NasDem Johnny G Plate (Sams Wildan/detikcom)
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nyaris menyentuh angka Rp 15 ribu. Sekjen NasDem Johnny G Plate menyebut kritik dari oposisi bisa menurunkan kepercayaan masyarakat dan membuat rupiah tak stabil.

"Kalau oposisi hanya bisa kritik-kritik, membuat ketidakpastian ke masyarakat, ini menurunkan kepercayaan kepada perekonomian kita, menurunkan kepercayaan nilai tukar rupiah. Justru oposisi ini bisa membuat nilai rupiah makin gonjang-ganjing. Ini tantangan bersama," ujar Johnny di kantor DPP NasDem, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/9/2018).


Pria yang duduk di Komisi Keuangan DPR ini menegaskan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bukan permasalahan politik, melainkan murni persoalan ekonomi. Ia mengajak semua pihak bersinergi.

"Ini bukan soal politik, ini ekonomi bersama. Kita pisahkan dulu dengan politik. Harus solid, berikan optimisme karena memang faktanya makroekonomi fundamental, makroekonomi kita kuat. Nilai tukar rupiah ke dolar sama levelnya Rp 15 ribu atau hampir Rp 15 ribu dibanding dengan Rp 15 ribu di tahun 1997 sama itu. Tapi perbedaan depresiasinya dan makroekonominya, regulasinya," tuturnya.


Sebelumnya, kubu oposisi mengkritik pemerintahan Presiden Jokowi terkait meroketnya kurs dolar AS. Jokowi dinilai gagal.

"Jika rupiah terus melemah, bisa saja ada bank yang rontok, swasta tak mampu bayar utang, default, PHK, dan banyak dampak ikutan lain. Pemerintah tak kelihatan berbuat apa pun, tak ada intervensi kebijakan yang jitu. Inilah kegagalannya," ujar Waketum Gerindra Fadli Zon, Selasa (4/9).


Jokowi juga angkat bicara soal melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Ia menyebutkan hal ini terlihat dari fakta melemahnya mata uang negara lain terhadap kurs Negeri Paman Sam.

"Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi. Baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di AS, baik yang berkaitan dengan perang dagang AS dan China, baik yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina," kata Jokowi saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, hari ini. (dkp/dkp)