Pengacara Ungkap Lika-liku Kasus Meiliana yang Keluhkan Volume Azan

Indah Mutiara Kami - detikNews
Kamis, 23 Agu 2018 15:19 WIB
Meiliana dan pengacara (Foto: Dok. Ranto Sibarani)
Jakarta - Kasus Meiliana, wanita asal Tanjung Balai, Sumut yang dihukum 18 bulan bui karena mengeluhkan volume azan di masjid, menjadi sorotan. Pengacara Meiliana menjelaskan awal mula perkara hingga jalannya sidang.

Ranto Sibarani, salah satu pengacara Meiliana, menulis catatan perjalanan kasus Meiliana itu di Facebook-nya. Dia mengaku selama proses persidangan sudah menahan diri untuk tidak bicara di media sosial soal kasus Meiliana, namun kini akhirnya bicara setelah putusan hakim diketok.



Ranto mengungkapkan awal mula keluhan yang disampaikan Meiliana berujung perusakan rumah dan sejumlah rumah ibadah di Tanjung Balai pada Juli 206 hingga saat Meiliana ditahan pada Mei 2018. Pada saat sidang, Ranto menyebut tidak ada rekaman suara atau video yang secara terang menunjukkan tindak pidana yang dilakukan oleh Meiliana.

Setelah vonis 18 bulan bui diketok untuk Meiliana, pengacara langsung mengajukan banding. Namun, hingga kini banding belum resmi diajukan karena berkas putusan belum ditandatangani ketua PN Medan.

Ranto hari ini menjenguk Meiliana di tahanan khusus perempuan di LP Tanjung Gusta, Medan dan menyampaikan banyaknya dukungan untuk Meiliana. Meiliana mengucapkan terima kasih.

"Banyak dukungan mengalir, dia berterima kasih juga. Dia berharap ini tidak terjadi pada yang lain," kata Ranto saat dihubungi, Kamis (23/8/2018).



Berikut pemaparan pengacara Meiliana, Ranto Sibarani terkait awal mula kasus hingga jalannya sidang


Sebagai Tim Penasehat Hukum ibu Meliana, setelah menahan diri untuk tidak menuliskan apapun terkait perkara ibu Meliana, karena kami beranggapan bahwa medsos bukanlah ranah untuk saling membuktikan kebenaran, namun baiklah sekarang kami menuliskannya setelah hakim membacakan putusannya menghukum penjara Meliana selama 18 bulan, sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Untuk info lebih detail terkait perkara tersebut, bisa meminta copy dakwaan, tuntutan, pledoi dll ke kantor hukum kami, akan dengan senang hati kami berikan, dalam kerangka menghadirkan diskusi intelektual untuk perkembangan hukum kita. Catatan ini hanya keterangan singkat, tidak akan utuh dalam menjelaskan duduk perkaranya.

Singkatnya perkara ibu Meliana begini:

Tanggal 22 Juli 2016,
ibu Meliana belanja ke tetangganya, lazimnya ibu-ibu belanja, curhat kepada pemilik warung (hanya mereka berdua), "kak, sekarang suara mesjid agak keras ya, dulu tidak begitu keras", pemilik warung yang jadi saksi dipersidangan tersebut juga mengakui bahwa itulah yang diucapkan Meliana.

Namun, kemudian pemilik warung menyampaikan curhatan Meliana tersebut kepada saudaranya, saudaranya menyampaikan kepada bapaknya, bapaknya menyampaikan kepada orang lainnya lagi, akhirnya tersebar isu bahwa ada "orang melarang Adzan" merujuk kepada ibu Meliana, issu tsb menyebar luas, seperti biasa medsos bekerja dengan cepat, massa menelan mentah-mentah issu tadi, akhirnya massa marah pada tanggal 29 Juli 2016. Dalam persidangan bahkan seorang saksi mengaku bahwa ada orang yang tidak dikenalnya menelepon dirinya untuk melakukan aksi karena ada yang melarang adzan. (Kita tidak tahu siapa yang menelpon, dan berapa orang yang ditelepon untuk menciptakan kegaduhan)

Tanggal 29 Juli 2016
Beberapa orang mendatangi rumah Meliana, mempertanyakan kebenaran issu "ada yang melarang Adzan" langsung ke rumah Meliana, orang-orang semakin ramai, rumah Meliana dilempari, dirusak dan dibakar. Tidak hanya itu saja, massa yang marah juga membakar puluhan rumah termasuk rumah ibadah umat Budha di Tanjung Balai.


Tanggal 30 Mei 2018
Kejaksaan Negeri Tanjung Balai mengeluarkan surat perintah menahan Ibu Meliana. Jaksa mendakwa ibu Meliana, melanggar pasal 156 subsidair pasal 156a Huruf (a) KUHPidana yang berbunyi: "Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia"

Jaksa mendakwa perbuatan pidana Meliana dilakukan pada tanggal 29 Juli 2016, padahal pada tanggal tersebut Melianalah yang menjadi korban tindak pidana dari orang-orang yang beramai-ramai menyatroni rumahnya, mengintimidasi, merusak rumahnya, membakar rumahnya dan melempari rumahnya, dan berteriak-teriak bakar kepada Meliana dan keluarga. Jaksa menjadikan surat pernyataan dari orang lain dan fatwa MUI Prov Sumut sebagai alat bukti Meliana melakukan perbuatan yang dituduhkan. Surat pernyataan tersebut dengan rinci menguraikan ucapan Meliana pada tanggal 29 Juli 2016, meskipun tidak pernah ada rekaman/video yang membuktikan kebenaran surat pernyataan tersebut adalah sama dengan yg diucapkan Meliana.

Selanjutnya
Halaman
1 2