DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 22:07 WIB

Kontroversi Spanduk Jangan Pilih Capres Jahat

Marlinda Oktavia Erwanti, Niken Purnamasari, Tsarina Maharani - detikNews
Kontroversi Spanduk Jangan Pilih Capres Jahat Spanduk 'Jangan Pilih Capres Jahat' disebar di Jakarta. (Foto: dok. detikcom)
Jakarta - Ajakan agar tak memilih capres jahat terus bergulir dan menuai kontroversi. Setelah digaungkan Mahfud Md, hari ini tersebar spanduk ajakan senada di JPO Cempaka Putih dan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

Spanduk itu berwarna dasar merah dengan tulisan putih 'JANGAN PILIH CAPRES JAHAT -Masyarakat Anti Golput'. Ada ilustrasi surat suara di bagian kanan spanduk.


Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago yakin spanduk itu bermakna positif untuk capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Sebab, katanya, Jokowi belum pernah mencelakakan orang.

"Karena Pak Jokowi selama hidup dan berkarier belum pernah mencelakakan orang, jadi tidak mungkin disebut jahat," kata Irma saat dihubungi, Selasa (21/8/2018).

Sekjen PSI Raja Juli Antoni memastikan spanduk itu bukan berasal dari koalisi Jokowi-Ma'ruf. Ia mengatakan tak ada instruksi dari Tim Kampanye Nasional terkait spanduk itu.

"Coba tanya kubu sebelah, apa mungkin mereka yang pasang? Kadang di politik ada strategi playing victim. Mudah-mudahan sih nggak, ya," ujar Raja Juli kepada detikcom.


PKB juga menilai isi spanduk itu memberikan dampak positif bagi Joko Widodo. Selain itu, spanduk-spanduk itu disebut menjadi salah satu wahana pencerahan politik untuk masyarakat.

"Iya, dan sebagai pencerahan politik untuk rakyat," kata Wasekjen PKB Daniel Johan kepada wartawan.

Sebelum munculnya spanduk ini, soal calon pemimpin jahat diutarakan Mahfud dalam acara pembekalan bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mahfud meminta tidak ada yang tak menggunakan suara di pilpres agar orang jahat tak terpilih.


Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon yakin pemimpin jahat yang dimaksud bukan Prabowo Subianto. Menurut Jansen, berbicara orang baik atau jahat dalam konteks memimpin negara lebih tepat jika dilontarkan kepada orang yang sudah pernah memimpin negara ini, misalnya Jokowi.

"Lebih tepat diujikan ke orang yang sudah memimpin negara ini. Dari kebijakannya itulah kita bisa mengukur negara ini jadi lebih baik atau tidak. Harga-harga lebih murah atau tidak. Nilai tukar rupiah tambah gagah atau malah amblas tak berdaya di depan mata uang asing," ujar Jansen.


Mahfud sudah menjelaskan maksud 'pemimpin jahat' yang disampaikannya itu. Lewat akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, Mahfud menjelaskan pernyataan 'pemimpin jahat' dikutipnya dari salah satu perkataan rohaniwan Katolik, Franz Magnis-Suseno. Dia meminta masyarakat tidak menafsirkan pernyataan 'pemimpin jahat' secara liar.

"Tak perlu tafsir liar. Negara harus berjalan, pemimpin harus ada. Jadi jangan golput, pilihlah 1 dari alternatif-alternatif yang tersedia. Sulit ada pemimpin yang benar-benar baik karena semua manusia pasti ada kelemahannya. Kata Franz-Magnis: Bukan untuk mencari yang ideal, tapi untuk menghalangi yang jahat jadi pemimpin," cuit Mahfud, Selasa (21/8).
(idh/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed