DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 20:22 WIB

Laporan Dari Mekah

Menag Punya Kisah Penuh Misteri Saat Jadi Petugas Haji

Fajar Pratama - detikNews
Menag Punya Kisah Penuh Misteri Saat Jadi Petugas Haji Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (Fajar Pratama/detikcom)
Jakarta - Sebelum menjadi Menteri Agama dan amirull hajj, Lukman Hakim Saifuddin pernah menjadi petugas haji 27 tahun silam. Dia punya cerita berkesan yang ternyata penuh dengan misteri.

Hal tersebut terungkap saat Lukman berbincang santai dengan anggota Media Center Haji (MCH) di kawasan Awali, Mekah, Kamis (16/8/2018). Anggota MCH bertanya kepada Lukman mengenai pengalaman paling berkesan ketika mantan Wakil Ketua MPR itu saat menjadi petugas haji.

Lukman pun menjawab dan kemudian bercerita dari awal. Dia pertama kali menjadi petugas haji pada 1991. Saat itu dia menjadi petugas sebagai perwakilan dari organisasi kemasyarakatan.


"Saya jadi petugas sebagai perwakilan dari NU," ujar Lukman.

Saat itu Lukman mendapatkan tugas sebagai petugas salah satu sektor di Mekah. Tugasnya bervariasi, dari menyambut jemaah saat tiba di Mekah, mengontrol kondisi jemaah yang ada di sektor itu, hingga memberikan pelayanan terhadap petugas yang tersesat.

Suatu ketika, ada petugas yang berjaga di Masjidil Haram mengantarkan seorang nenek yang tersesat ke pos sektor tempat Lukman bekerja. Mekanisme penanganannya, jemaah yang tersesat diserahkan ke pos sektor untuk kemudian dibawa petugas sektor ke hotel.

"Saya masih ingat betul. Kejadiannya bakda asar. Nenek itu dari Majene. Usianya di atas 60 tahun," tutur Lukman.

Nenek tersebut sempat diberi makan dan minum di pos sektor. Setelah dirasa sudah cukup, si nenek kemudian diantar Lukman, yang saat itu sedang berjaga di pos sektor, menuju hotel.

"Saya antarkan. Saat itu kondisi Mekah itu banyak konturnya menanjak. Untuk ke hotelnya nenek ini, harus jalan kaki naik begitu. Di tengah jalan, si nenek ini tidak kuat dan ambruk," kata Lukman.

Begitu mengetahui nenek tersebut ambruk, Lukman langsung melakukan penanganan. Dia mengontak dokter dan kemudian menggendong nenek tersebut ke dokter yang ada di sektor. Setelah serah-terima dengan dokter selesai, Lukman meninggalkan nenek tersebut. Prosedurnya memang seperti itu.

Saat memasuki salat Magrib, Lukman menyempatkan diri menunaikan salat di Masjidil Haram. Setelah salat, dia kaget karena berpapasan di Masjidil Haram dengan nenek dari Majene yang sempat digendongnya beberapa jam sebelumnya. Wajah si nenek tampak sehat dan ceria, jauh berbeda dengan kondisi saat ambruk.

"Saya melihat nenek itu. Karena kondisi Masjidil Haram ramai begitu, saya cuma senyum ke nenek tersebut. Neneknya juga tersenyum. Saya heran juga kok bisa langsung sehat sedemikian cepat. Langsung kuat," terang Lukman.

Keesokan harinya, Lukman melanjutkan tugas reguler melakukan kontrol ke area yang ada di sektor. Dia kemudian berjumpa lagi dengan dokter yang sempat memeriksa si nenek. Lukman menanyakan kepada si dokter, 'Kok bisa nenek tersebut bisa langsung sembuh.'

Jawaban si dokter membuat Lukman kaget. Kata si dokter, nenek itu akhirnya meninggal dunia pada sore hari itu.


"Nenek yang kemarin itu? Pas ke sini kondisinya sudah lemah. Akhirnya tidak dapat tertolong," kata si dokter ditirukan Lukman.

Seketika, suasana perbincangan santai anggota MCH dengan Lukman pun menjadi hening. Tak sedikit anggota MCH yang mengernyitkan dahi, bentuk gestur bertanya-tanya.

"Lalu yang bertemu dengan Pak Lukman di Masjidil Haram itu siapa, Pak?" tanya anggota MCH.

Lukman tersenyum.

"Ya, itulah cerita yang paling berkesan bagi saya," jawabnya.
(fjp/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed