UI Kembangkan Teknologi Murah Pemeriksaan SARS
Jumat, 05 Agu 2005 07:21 WIB
Jakarta -
Penyakit pernapasan akut (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) memang menakutkan. Kini, teknologi murah dalam pemeriksaan penyakit ini sedang dikembangkan."Ini untuk membentu orang-orang yang kurang mampu. Diagnostik (pemeriksaan) SARS untuk saat ini kan masih mahal," kata peneliti dari Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran UI, Budiman Bella dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (5/8/2005).Saat ini, tim peneliti dari Departemen Mikrobiologi UI sedang mengembangkan penelitian pemeriksaan SARS. Nantinya diharapkan, ongkos pemeriksaan SARS bisa lebih murah. Tahun 2004, untuk sekali periksa, pasien harus membayar Rp 850 ribu. "Dengan hasil penelitian ini diharapkan bisa turun," harap Budiman.Selain meneliti SARS, Budiman juga terlibat dalam tim lainnya yang meneliti metode pemeriksaan virus HIV dan karakterisasi protein TAT yang berperan dalam produktivitas virus HIV. Penelitian tersebut berpotensi dikembangkan lagi untuk menemukan vaksin SARS dan obat-obatan untuk penderita AIDS dengan harga yang terjangkau. "Ini memang baru penelitian awal, tapi potensinya besar walaupun langkah kesana masih cukup jauh, harus ada langkah selanjutnya," tandasnya. Penelitian Budiman berjudul Pengembangan Sistem Diagnostik Serologik Infeksi Corona Virus penyebab SARS merupakan salah satu penelitian yang dipresentasikan dalam Seminar Riset Unggulan UI yang berlangsung 4-5 Agustus 2005. Minimnya Perhatian PemerintahBudiman mengaku perhatian pemerintah terhadap riset ilmiah sangat minim. Belum lagi, kualitas peneliti asal Indonesia terkadang diragukan baik di dalam dan di luar negeri. "Penelitian di Indonesia kan masalahnya selalu dana. Dan peneliti disini belum dihargai," aku Budiman. Ia mengeluh salah satu penelitiannya pernah "kecolongan" dipublikasikan Cina lebih dulu karena minimnya dana. Hal serupa juga diutarakan Direktur Direkorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (DRPM) UI Prof. DR. A. Dahana. "Dana penelitian memang masih sangat sulit di cari, mungkin kalau anggaran pendidikan sudah 20 persen ada bagian khusus untuk riset-riset ilmiah," ujarnya.Dahana mengatakan penelitian ilmiah sudah sangat mendesak untuk digiatkan. Sebab, peringkat riset dan publikasi ilmiah Indonesia di dunia internasional sudah sangat terpuruk. "Untuk UI, di ASEAN saja tidak masuk lima besar," tuturnya.DRPM UI yang menyelenggarakan Riset Unggulan Universitas Indonesia menyediakan dana Rp 1 miliar untuk 18 penelitian yang terpilih. Setiap tim, rata-rata mendapatkan Rp 50-75 juta. Jumlah ini menurut Budiman masih sangat minim.Terkait hal tersebut, masalah lainnya adalah kesejahteraan peneliti. "Idealnya peneliti lulusan S2 minimal bergaji dua juta sebulan. Itu terpenuhi tapi dari nyambi," keluh Budiman.Peneliti Indonesia sebenarnya juga memiliki kualitas yang baik. Namun terkadang memiliki kendala kurang menguasai bahasa Inggris. "Bukan masalah desain risetnya, tapi kemampuan bahasa inggris penelitinya yang sering pas-pasan. Sehingga di forum internasional sulit menjelaskan dan berargumen dengan baik," kata Budiman.
(ton/)










































