Solar di Bali Rp 5.480/L, 11 Ribu ABK Terancam PHK
Selasa, 02 Agu 2005 14:14 WIB
Denpasar - Di Bali, solar untuk industri dihargai Rp 5.480/liter, atau meroket 149% dari harga lama, Rp 2.200/liter. Buntutnya, sekitar 11 ribu anak buah kapal (ABK) terancam di-PHK.Kenaikan harga BBM itu membuat para nelayan yang bekerja pada perusahaan penangkapan ikan menjerit. Selain ABK, nasib 2.000 karyawan yang bekerja di daratan juga di ujung tanduk.Para pengusaha penangkapan ikan itu patut resah karena kapal untuk menangkap ikan di lautan berbahan bakar solar kini harganya melonjak tajam. "Kami bukan industri, kami nelayan biasa," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Soetomo HP.Soetomo menyatakan hal itu dalam jumpa pers di kantor DPP ATLI, Jl Ikan Tuna Raya, Labuhan, Benoa, Denpasar, Selasa (2/8/2005). Kegiatan ini juga dihadiri para pimpinan perusahaan ikan tuna.NaikHarga jual BBM sektor industri dan bunker internasional resmi naik di Bali dan NTB per 1 Agustus 2005. Harga baru ini dikeluarkan PT Pertamina Unit Pemasaran V Cabang Denpasar tanggal 29 Juli 2005.Kenaikan ini berdasarkan SK Dirut PT Pertamina tertanggal 26 Juli 2005. Kenaikan harga ini terhitung 1 Agustus pukul 00.00 Wita. Rincian harganya adalah:1) Premium: Rp 2.400/liter menjadi 4.640/liter2) Minyak tanah: Rp 2.200/liter menjadi Rp 5.490/liter3) Solar: Rp 2.200/liter menjadi Rp 5.480/liter4) Minyak diesel: Rp 2.300/liter menjadi Rp 5.240/liter5) Minyak bakar: Rp 2.600/liter menjadi Rp 3.150/literNah, para pengusaha yang tergabung dalam ATLI pun dikenai harga baru itu. "Kami sudah mengajukan surat agar harga itu diturunkan kembali karena usaha perikanan di Bali bukan kategori industri tapi nelayan," argumen Soetomo.Dia juga mempertanyakan mengapa kenaikan itu hanya berlaku di Bali dan tidak terjadi di perusahaan penangkapan ikan di pelabuhan Jakarta, Cilacap dan Pekalongan. Saat ini harga di solar tiga kota di Pulau Jawa itu masih Rp 2.100/liter."Mengapa naik hanya untuk Bali saja? Itu namanya mematikan perikanan di Bali," protes Soetomo.MogokKanaikan harga solar itu menyebabkan penumpukan 700 kapal penangkap ikan di Pelabuhan Benoa. Kapal yang saat ini masih berlayar, setelah bersandar nantinya juga akan diliburkan."Jika kapal tidak beroperasi, maka akan terjadi pengangguran 11 ribu ABK dan 2.000 karyawan di darat. Jika ini berlangsung 3 bulan, maka akan terjadi PHK," urai Soetomo.Soetomo menuturkan, dengan harga solar baru, maka biaya operasi perusahaannya meningkat 161% hingga 206%. "Kami sudah menyandarkan kapal kami sejak Senin kemarin," keluhnya.Kenaikan harga BBM itu juga mengancam berhentinya produksi ikan tuna ekspor dan lokal dari Bali. Untuk itulah Soetomo meminta Pertamina agar menyeragamkan harga BBM dengan usaha nelayan di kota lain, dan membangun SPBU dan tongkang khusus di Benoa untuk menyuplai BBM ke kapal-kapal ikan.
(nrl/)











































