"Poin-poinnya ada kesepakatan persetujuan bahwa masa depan bangsa, negara, rakyat itu harus dipikul bersama oleh para politikus, ulama, dan segenap bangsa yang lain. Jadi nanti season-season ijtimak bicara mengenai masalah-masalah yang cukup luas, bukan sekedar siapa capres dan siapa cawapres, tapi juga diusahakan perspektif sosial-ekonomi dan lainnya," kata Amien kepada wartawan di Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan memang semua pidato (ketua umum parpol) mengatakan batasan ini sudah mengkhawatirkan, antara pemerintah dan kenyataan memang beda agak jauh," tambahnya.
Sementara itu, Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra menilai acara ijtimak akan mencari pemimpin yang cerdas dan paham dengan negara ini. Dia menyarankan agar pemimpin tersebut mampu menyelesaikan masalah kenegaraan.
"Ijtimak ini kan cari pemimpin yang betul-betul memahami persoalan yang dihadapi bangsa dan negara. Sebab, gimana ini mendasari, kita tidak ketahui persoalannya. Jadi jangan terjebak mitos memilih seseorang seperti masa lalu," ungkap Yusril.
Ia berpendapat persoalan-persoalan negara akan selesai dengan cepat jika dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan pintar. Ia pun berharap agar rekomendasi yang diberikan ijtimak adalah pemimpin yang cerdas, bukan yang terjebak dengan mitos.
"Negara itu hanya bisa diselesaikan kecerdasan dan keputusan cepat dan tepat, dan bisa menyelesaikan persoalan terlalu lama. Jadi ini konferensi diharapkan ijtimak kita serahkan ulama mau rekomendasikan siapa capres atau cawapres dan kita harapkan nggak terjebak mitos, tapi cari pemimpin yang punya kemampuan," kata dia. (ibh/ibh)










































