detikNews
Rabu 25 Juli 2018, 13:42 WIB

Ini Suka-Duka Warga Sulsel 16 Jam Arungi Laut Hanya Beli Sembako

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Ini Suka-Duka Warga Sulsel 16 Jam Arungi Laut Hanya Beli Sembako Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulsel (topik/detikcom)
Makassar - Kapten Haji Udin duduk di atas kapal kayunya di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulsel. Ia mengamati bongkar-muat barang di kapal kayu miliknya. Hari ini dia akan membawa barang kebutuhan pokok ke Pulau Kalukalukuang, Kecamatan Kalmas, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

Sudah 20 tahun Haji Udi bekerja mengangkut warganya untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok di Makassar dari Pulau Kalukalukuang. Rencananya, sore nanti, Haji Udin akan berangkat ke pulau itu, yang jaraknya sejauh 120 mil laut, atau setara perjalanan 16 jam dari Pelabuhan Paotere, Makassar.

"Kita akan berangkat sore nanti atau paling lambat malam hari menuju pulau," kata Haji Udin saat ditemui di kapal kayunya yang tengah bersandar di Pelabuhan Paotere, Rabu (25/7/2018).

Saat dilihat di geladak kapal, berbagai kebutuhan pokok tengah diangkut, seperti karung beras, gula, air mineral, dan mi instan. Terlihat juga beberapa orang tengah duduk melingkar, bertelanjang dada, untuk menghilangkan panas yang menyengat hari ini.

Di dalam geladak kapal, terlihat beberapa orang tengah berbaring menunggu kapal Haji Udin berangkat. Salah satunya Syafruddin (60), yang tinggal di Pulau Kalukalukuang, sehabis berbelanja kebutuhan pokok di Makassar.

Syafruddin mengaku telah belasan tahun pulang-pergi Pulau Kalukalukuang ke Makassar dengan waktu tempuh sekitar 16 jam. Dia menceritakan pengalamannya pernah bermalam hingga 4 hari di pelabuhan hanya untuk menunggu kapal yang datang.

"Saya menginap karena tidak ada kapal datang dari pulau. Kapal penumpang juga tidak ada," kata Syafruddin.

Beruntung bagi Syafruddin, dia memiliki tetangga yang memiliki rumah di sekitar pelabuhan. Di sanalah dia menumpang dan menginap sambil menunggu kapal datang, meski uang perbekalan yang dibawanya ke Makassar juga telah habis.

"Yang saya bawa tinggal beras di tangan. Tidak ada lagi yang tersisa setelah pelarangan kapal barang membawa penumpang. Di pulau saya, tidak ada kapal penumpang karena semuanya kapal barang," terangnya.

Lain lagi cerita Daeng Ani (47), yang juga habis berbelanja di Kota Makassar. Dikatakannya, belanja kebutuhan pokok, khususnya beras, adalah yang paling utama. Dia berbelanja untuk stok bulanan keluarganya yang berada di pulau.

"Beras penting. Kita ini orang kampung makannya beras dan ikan," ujarnya.

Saking pentingnya, Daeng Ani tidak akan memasak beras jika nasi yang sebelumnya tidak habis di meja makan keluarganya.

"Saya tidak masak nasi kalau nasinya belum habis. Kalau ada sisanya, saya simpan dan nanti dikukus lagi buat dimakan. Perjalanan ke sini jauh dan lama. Belum lagi tidak ada kapal yang datang ke pulau tiap hari," ujarnya.



Tonton juga video: 'Menstabilkan Harga Sembako Melalui Pasar Murah'

[Gambas:Video 20detik]


(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com