DetikNews
Minggu 22 Juli 2018, 15:53 WIB

BMKG: Puncak Gelombang Tinggi di Perairan Terjadi 24-25 Juli

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
BMKG: Puncak Gelombang Tinggi di Perairan Terjadi 24-25 Juli Foto: Dwikorita Karnawati (Uje Hartono/detikcom)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi gelombang tinggi akan terjadi di perairan Indonesia pada tanggal 23-28 Juli 2018. Puncak gelombang tinggi itu akan terjadi pada 24-25 Juli.

"Puncak gelombang tinggi 24 hingga 25 Juli itu puncaknya, yang mencapai 6 meter lebih di daerah-daerah tadi, pantai yang ada di Selatan Indonesia," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/7/2018).


Fenomena gelombang tinggi di perairan Indonesia ini setidaknya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, adanya tekanan udara dari arah Madagaskar yang mengarah ke arah timur namun berbelok ke arah Indonesia.

"Karena sebetulanya sangat dipengaruhi oleh fenomena global yang terjadi di sebelah timur, jadi semuanya di Samudera Hindia, sebelah timur Pulau Madagaskar di situ ada tekanan udara yang tinggi, sementara itu
Australia, ke arah Australia, tekanan udara relatif rendah. Sehingga terjadi aliran udara yang gambarannya berupa dengan kecepatan tinggi dari arah barat di sebelah timur Madagaskar," ujarnya.

Tekanan udara itu berbelok ke arah Indonesia karena tertabrak oleh benua Australia. Akhirnya udara itu masuk ke perairan selatan Indonesia.

"Sebenarnya larinya mau sampai ke timur sampai pasifik, sebetulnya, tetapi karena tertabrak oleh benua Australia, kecepatan yang tinggi tadi, tertabrak oleh benua Australia sehingga membelok, menikung masuk ke arah sebelah selatan Indonesia," ujarnya.


Selain itu, fenomena gelombang tinggi juga disebabkan oleh adanya angin yang datang dari Australia. Dwikorita mengatakan dua faktor global itu menyebabkan perairan di wilayah selatan Indonesia mengalami gelombang yang sangat tinggi.

"Juga ada fenomena lain arah angin dengan kecepatan tinggi dari arah Australia yang dingin ke arah Indonesia. Jadi ada dua serangan istilahnya, serangan dari Afrika membelok ke Indonesia, ada dari Australia langsung ke Indonesia. Sehingga semuanya berkumpul di sebelah selatan atau di pantai selatan laut Jawa hingga Nusa Tenggara bahkan tadi di sebelah barat Pulau Sumatera," tuturnya.

Tak hanya faktor global, gelombang tinggi juga disebabkan oleh faktor lokal. Pantai di Indonesia mengalami fenomena yang disebut rip current (arus pecah) yang menimbulkan arus di bagian teluk berbalik ke arah laut.

"Selain itu juga di pantai-pantai biasanya ada teluk, biasanya itu ada bahaya Rip Current, pada teluk ini biasanya akan bertemu dua arus dari dua arah yang berbeda dari arah kanan dan arah kiri, jadi dua arus ini akan menimbulkan Rip Current sehungga arus tadi mentok menabrak teluk, menabrak daratan dengan efek dia balik ke laut sehingga kapal yang sudah akan merapat ke teluk kalau terkena Rip Current akan terseret ke laut," beber dia.


(knv/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed