DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 14:52 WIB

Seleksi Berlapis Masuk SMA Unggulan CT ARSA

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Seleksi Berlapis Masuk SMA Unggulan CT ARSA Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Jakarta -

SMA Unggulan CT ARSA Sukoharjo menerima 200 siswa pada tahun ajaran perdana 2018/2019 pada Jumat (13/7) kemarin. 200 Siswa tersebut sudah melalui proses seleksi yang berlapis.

Penanggungjawab Perekrutan Sekolah Unggulan CT ARSA, Latif Harnoko, menceritakan panjang dan berlikunya proses perekrutan untuk mendapatkan siswa unggul.

"Seleksinya sangat ketat, dari 4.000-an pendaftar yang diterima sekitar 200. Komitmen untuk mewujudkan sekolah unggulan ada konsekuensi yang tidak tanggung-tanggung. Proses seleksi dilakukan begitu ketat dengan tim independen, tidak hanya berdasarkan nilai sekolah," kata Latif Harnoko saat berbincang dengan detikcom, Senin (16/7/2018).


Seleksi dilakukan dengan mengombinasikan penilaian melalui ujian akademik dan tes potensi. "Pertama, anak itu pandai di sekolah pasti seleksi akademis bisa, tapi kadang ada orang biasa saja tapi punya potensi yang luar biasa nah itu kita temukan dengan test psikologi," kata Harnoko.

Prosedur tes pun berlapis untuk memilih individu handal. Calon siswa SMA Unggulan CT ARSA diperlakukan seperti layaknya pelamar kerja.

"Ada tes akademik, psikologi, sampai wawancara. Ini di-treatment seperti orang kerja. Ada indepth interview," katanya.

"Jadi kita punya angka standar kombinasi akademik dan potensi. Soal tes akademik sudah diuji coba validasi ke sekolah terbaik, tingkat kerahasiaannya juga sangat dijaga," kata Harnoko.


Setelah kandidat dinyatakan lulus rangkaian tes tersebut, masuk tahap kedua yakni survei. Karena siswa SMA Unggulan CT ARSA harus dari kalangan keluarga miskin.

"Setelah dapat kandidat yang lulus kita masuk survei, kita punya standar mereka itu harus keluarga miskin. Kita wawancara keluarganya, tetangganya, kadang (mereka) bisa cheating anak dititipin sama tetangganya," ungkap Noko.

"Kalau dia punya motor, harganya berapa, jadi kita taksir kekayaannya. Kadang ngontrak kan, berapa income per bulan dan dari mana saja. Makin tinggi angka itu makin orang itu miskin, kita sortir yang paling miskin digabung mana yang lolos seleksi," sambung Harnoko.

Nah setelah itu dihasilkan sejumlah nama calon siswa SMA Unggulan CT ARSA. Nah tahap berikutnya adalah bagaimana meyakinkan siswa dan orang tuanya.

"Kan ada yang anak tunggal jadi penanggung jawab keluarga jadi kalau dipindahkan ke asrama takut mengganggu. Kita harus meyakinkan orang tua bahwa ini tujuannya mulia," kata Harnoko.

"Ada tes kesehatan karena mereka mau masuk asrama, jangan sampai ada penyakit menular. Nah setelah memenuhi semua kita serahkan kepada gurunya dalam pengaturan sekolah kita ambilnya kelas IPA semuanya, jadi kita fokusnya ke arah sana," pungkasnya.


(van/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed