DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 08:16 WIB

PPP: Jokowi Tak Perlu Berguru ke Soeharto

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
PPP: Jokowi Tak Perlu Berguru ke Soeharto Foto: Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Tsarina Maharani/detikcom)
Jakarta - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah sesuai aturan dan rambu-rambu yang ditetapkan dalam menjalankan kepemimpinannya. Untuk itu, Jokowi tidak perlu mengikuti saran Partai Berkarya yang meminta belajar ke Presiden ke-2 RI Soeharto.

"Jadi Pak Jokowi sementara ini sudah berjalan sesuai rel atau rambu-rambu yang ditetapkan, soal berguru ke pengalaman boleh, tapi kan tidak harus ke orde baru," ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek) kepada detikcom, Minggu (15/7/2018).

Menurut Awiek, zaman Soeharto tidak ada gejolak karena situasi politik yang terkendali. Ketimpangan ekonomi di zaman Soeharto juga banyak, namun saat itu negara tersentralistik.

"Masyarakat mau teriak saja tidak bisa. Kalau bicara ketimpangan ekonomi zaman orde baru juga banyak, tapi karena waktu itu negara sentralistik sehingga mudah terkontrol," katanya.


Awiek menilai pencapaian infrastruktur yang dibangun Jokowi sudah luar biasa. Namun menurutnya capaian dari pembangunan infrastruktur tidak dapat dirasa langsung manfaatnya, dan akan dirasakan dalam jangka panjang.

"Pembangunan infrastruktur itu tidak bisa seperti orang membagi BLT atau membagi sembako, orang dikasih BLT dikasih sembako, dibelanjakan sekarang kenyang. Tapi untuk infrastruktur itu jangka panjang," tuturnya.

"Contoh misalkan, ketika infrastruktur sudah jadi, maka distribusi barang itu lebih cepat, lebih mudah dan mengurangi cost, dan dampaknya juga kepada harga jual kepada masyarakat. Dan itu baru bisa terasa 5 sampai 10 tahun setelah infrastruktur itu selesai, tidak saat infrastruktur itu jadi langsung terasa,tapi dampaknya bertahap, lambat laun bahkan 5 sampai 10 tahun baru terasa," lanjutnya.


Awiek juga mencontohkan pembangunan Tol Jagorawi di zaman Soeharto yang saat itu tidak langsung terasa, dan manfaatnya baru terasa saat ini. Mobilisasi masyarakat yang hendak berangkat ke Bogor melalui Tol Jagorawi kini sedikit mudah. Namun Awiek kembali menegaskan, Jokowi tidak perlu berguru ke Soeharto.

"Ngapain juga belajar ke Pak Harto, presiden yang lain juga banyak. Jadi Orde Baru itu tidak segemilang yang digambarkan, karena waktu itu tidak ada gejolak, karena stabilitas politiknya kuat, karena Pak Harto waktu itu benar-benar mengontrol sistem. Nggak perlu lah, era Pak Jokowi aja, kalau belajar dari Pak Harto Freeport masih 9 persen dong," ucapnya.

Sebelumnya, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengusulkan Presiden Jokowi menjalankan ajaran Presiden ke-2 RI Soeharto. Priyo menyatakan, ajaran Soeharto adalah solusi dari masalah di Indonesia saat ini. Ajaran tersebut mengenai pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas, dan trilogi pembangunan.

"Jika pemerintah kita mau sedikit saja mengikuti ajaran kebaikan pada zaman Soeharto, saya kira itu menjadi solusi," kata Priyo di Kantor DPP Berkarya, Jl Pangeran Antasari, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Minggu (15/7).
(nvl/fai)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed