Dampak Flu Burung
Penjual Sate Ayam Menjerit
Rabu, 27 Jul 2005 14:16 WIB
Palu - Merebaknya penyebaran flu burung di sejumlah daerah membuat peternak ayam, pedagang ayam dan warung makan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, kelimpungan. Mereka mengaku penjualannya turun drastis meski Sulawesi Tengah masih dinyatakan bebas flu burung.Misalnya saja para peternak yang biasanya memasok hingga 7.000 ekor per hari ke pasar-pasar tradisional di Kota Palu, kini tinggal 4.000 ekor. Para penjual sate ayam juga menjerit. Sebutlah Ny Sofiana. Dulu ia bias memotong 5-10 ekor per hari. "Sekarang jangankan 5 ekor, 3 ekor saja ia sudah merasa bersyukur," katanya.Kondisi serupa pun dialami Salma. Pedagang ayam potong di Pasar Masomba, Palu Timur, itu mengaku kini paling banter bisa menjual 100 ekor per hari. Padahal dulunya dalam sehari, sekitar 300-400 ekor.. Jadi tak usah heran, los-los penjual ayam potong di salah pasar besar di Kota Palu itu tampak lengang."Selain masyarakat agak takut beli ayam, ini karena memang permintaan dari warung-warung itu sedikit sekali. Kata mereka pembelinya lagi sepi," aku Salma.Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Palu Abdul Kahar meminta agar masyarakat tidak khawatir mengkomsumsi daging ayam, sebab sampai kini belum ada kasus flu burung yang ditemukan di daerah itu."Apalagi kami terus melakukan pemantauan atas bibit ayam potong yang masuk dari daerah lain ke wilayah Kota Palu dan sekitarnya," aku Kahar di kantornya, Kompleks Balai Kota Palu, Jalan Balai Kota Timur, Palu Selatan, Rabu (27/7/2005).Beberapa waktu lalu, imbuh Kahar, pihaknya telah memusnahkan 1.000 ekor bibit ayam potong yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, karena tidak dilengkapi surat keterangan dari Dinas Peternakan asalnya.
(nrl/)











































