DetikNews
Senin 09 Juli 2018, 12:26 WIB

Hemat Ala Mahasiswa Surabaya, dari Mie Instan hingga Narik Ojek

Hilda Meilisa - detikNews
Hemat Ala Mahasiswa Surabaya, dari Mie Instan hingga Narik Ojek Tugu Pahlawan (budi/detikcom)
FOKUS BERITA: Serba-serbi Biaya Kuliah
Surabaya - Selain disebut sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga merupakan kota dengan segudang perguruan tinggi. Ribuan mahasiswa baru membanjiri Surabaya tiap tahunnya. Berapa budget yang harus disiapkan untuk hidup?

Kampus kenamaan berdiri di Surabaya. Mulai dari yang negeri seperti Universitas Airlangga (Unair), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Pembangunan Negara (UPN), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ada pula kampus swasta seperti Universitas Kristen Petra sampai Universitas Surabaya (Ubaya).

Di tahun ini, jika satu perguruan tinggi menerima ribuan mahasiswa, otomatis akan ada puluhan ribu mahasiswa yang akan ke Surabaya, baik dari dalam kota, luar kota hingga luar provinsi.

Namun sebelum menjajakkan kaki ke Surabaya, ada baiknya mengetahui estimasi biaya yang dibutuhkan untuk biaya hidup. Dari pantauan detikcom, rata-rata biaya hidup di Surabaya bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta/bulan.

Misalnya saja mahasiswa semester 8 di Unair M. Iqbal Anugerah yang biaya hidupnya mencapai Rp 1,5 juta dalam sebulan. Biaya ini meliputi Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya makan, sewa kontrakan hingga membeli kebutuhan tambahan seperti pulsa, buku dan bensin.

Iqbal mengaku membayar UKT sebanyak Rp 2.250.000. Biaya tersebut dibayarnya setiap semester atau enam bulan sekali. Yang mana jika ditotal mencapai Rp 375.000 untuk setiap bulannya.

"Setiap jurusan biasanya berbeda, kalau aku sendiri tiap semester Rp 2.250.000," ujar mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan ini.

Sementara untuk biaya makan, Iqbal mengaku satu kali makan, dia menghabiskan budget Rp 10 ribu. Jika dalam sehari dia makan dua hingga tiga kali, Iqbal menghabiskan uang sebanyak Rp 440.000. Penghitungan ini karena dalam satu bulannya, Iqbal hanya makan di kampus selama 22 hari, hal ini terpotong libur dua hari setiap sabtu dan minggu.

"Jadi satu kali makan cuma Rp 10 ribu, biasanya makan dua kali aja jadi Rp 20 ribu kali 22 hari. Totalnya cuma Rp 440.000 satu bulannya," ungkapnya.

Iqbal juga mengungkapkan, jika dirinya ingin makan tiga kali sehari sembari menghemat pengeluaran, di kontrakan dia akan memasak sendiri lauknya. Misalnya membuat mie instan hingga menggoreng telur. Sementara untuk nasinya, dia dan teman-temannya selalu patungan untuk masak nasi.

"Kalau pengen tiga kali ya malamnya masak mie, atau goreng telur, biar lebih hemat," imbuhnya.

Sedangkan untuk tempat tinggal, Iqbal mengatakan dulu sempat tinggal di kosan. Biayanya mencapai Rp 500 ribu untuk setiap bulannya. Namun kini dia memilih untuk mengontrak rumah dengan teman-temannya. Hal ini karena biayanya bisa lebih murah karena patungan dengan temannya yang lain.

Untuk kontrakan, Iqbal mengaku membayar di awal tahun sebesar Rp 2 juta. Jika ditotal, setiap bulannya untuk kontrakan Iqbal hanya perlu membayar Rp 160 ribu saja.

"Tapi, di luar biaya itu, kita (penghuni kontrakan) tiap bulan patungan untuk biaya listrik, beli beras, dan kebutuhan kontrakan," tambahnya.

Namun biaya patungan tersebut tidak terlalu berat yakni hanya Rp 50-100ribu saja setiap bulannya. Sementara untuk biaya lain seperti buku, fotocopy, dan print tugas, Iqbal tidak bisa memastikan karena setiap bulan selalu berbeda.

"Dulu awal semester banyak beli buku dan tugas, tapi sekarang karena tinggal skripsi ya ndak terlalu banyak," tambahnya.

Ada pula kebutuhan untuk membeli pulsa dan paket data. Setiap bulannya, rata-rata Iqbal menghabiskan Rp 100 - 150 ribu. Paket internet tersebut, juga digunakannya untuk mengerjakan tugas karena di kontrakannya tak ada wifi.

Sementara ketika ditanya biaya nongkrong hingga main ke mal, Iqbal mengatakan dia hanya sesekali nongkrong. Biasanya dalam seminggu, dia bisa satu kali pergi untuk mencoba kuliner hits di Surabaya atau jalan-jalan.

Namun, sebelum pergi ke cafe atau tempat nongkrong tersebut, dia akan mencari referensi dan harga lewat internet terlebih dahulu. "Ya biar tahu berapa budgetnya, cari yang ndak terlalu mahal dan sesuai kantong," ungkapnya.

Iqbal mengaku, uang saku yang diberi orang tuanya seringkali kurang. Namun, dia menyiasati hal ini dengan mencari pekerjaan sambilan. Misalnya saja dengan menjadi pengemudi ojek untuk menambah uang saku.

Lain Iqbal, lain juga dengan Kiki Rosmala. Mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) asal Bondowoso ini dalam sebulannya bisa menghabiskan uang sampai Rp 4 juta.

Mahasiswi jurusan Teknik Informatika ini membayar UKT setiap semesternya sebesar Rp 7 juta. Hal ini jika dibagi menjadi enam bulan, dalam sebulannya Kiki membayar sebesar Rp 1.250.000.

"Kebetulan UKT kemarin kena Rp 7 juta," imbuh mahasiswi semester 4 ini.

Tak hanya itu, untuk kosannya, Kiki mengaku setiap bulan membayar sebesar Rp 1,2 juta. Memang sedikit mahal namun memiliki fasilitas yang lengkap. Kiki menyebut di kosannya sudah tersedia AC, Wifi, dapur lengkap dengan kulkasnya, mesin cuci hingga biaya listrik yang sudah ditanggung oleh pemilik kos.

Sementara untuk biaya makan, Kiki mengaku dalam sekali makan bisa dari Rp 10-20 ribu. Besaran ini pun tak pasti karena menu makanannya berbeda setiap makan.

"Aku selalu beli sih karena ndak bisa masak, paling murah Rp 10 ribu kalau lagi hemat. Tapi rata-rata lebih dari itu," tambahnya.

Sedangkan untuk biaya buku dan mengerjakan tugas, Kiki mengaku mencapai Rp 300-400 ribu dalam sebulan. Hal ini relatif karena biasanya setiap bulan tergantung dosen yang memberi tugas.

Tak ketinggalan, saat di Surabaya, Kiki juga suka berwisata mal. Misalnya belanja ke mal, nonton bioskop, hingga mencoba kuliner baru. Terlebih hal ini menjadi favoritnya saat dilakukan bersama teman-temannya.


Namun, Kiki mengaku tidak semua biaya tersebut ditanggung orang tuanya, karena dia mengandalkan keahliannya bermain piano untuk mencari tambahan di Surabaya. Dia bersama teman-temannya pun sering menjadi pengiring di pernikahan hingga acara tertentu.

"Jadi kita istilahnya ngamen sama temen-temen, lumayan lah hasilnya bisa dibuat hang out," ungkapnya.
(asp/asp)
FOKUS BERITA: Serba-serbi Biaya Kuliah
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed