Pengembangan instrumen IKA diyakini mudah dipahami karena menggunakan parameter umum dan terbatas, tapi tidak menghilangkan esensinya serta dapat melacak kembali komponen penyusunnya. Jadi dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan pengelolaan untuk peningkatan kualitas air secara tepat.
"Untuk mengetahui apakah kondisi air sungai di suatu badan air bagus atau tidak, perlu dilakukan penilaian kualitas air," kata Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan di Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL), Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Dewi Ratnaningsih, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/7/2018).
Pada umumnya, IKA merupakan salah satu instrumen penilaian kualitas air yang sudah diterapkan di berbagai negara. Namun hingga saat ini Indonesia belum menggunakannya.
"Masing-masing wilayah yang dilalui oleh badan air sungai baik di kabupaten/kota, provinsi atau pemerintah pusat. Seharusnya menyampaikan informasi penilaian kualitas air sungai sebagai jaminan bahwa sungai di wilayah mereka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai kualitasnya," jelasnya.
Tim P3KLL, lanjut Dewi, juga telah memasukkan semua persamaan matematika ke dalam bentuk program excel yang mudah diaplikasikan oleh pengguna.
"Dengan tersedianya instrumen tersebut, instansi lingkungan di pemerintah daerah dan berbagai pihak akan mudah mengaplikasikannya dan mendapatkan hasil yang mudah dipahami," katanya
Dewi menjelaskan formulasi IKA dikembangkan dengan metode mengacu pada NSF-WQI Amerika yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Formulasi ini disusun melalui pengambilan keputusan dengan melibatkan 93 panelis terkait bidang air yang berasal dari perguruan tinggi, instansi lingkungan, laboratorium lingkungan pemerintah dan swasta dan peneliti untuk pemilihan parameter, pembobotan dan penyusunan kurva sub indeks.
Dari hasil pengambilan keputusan melalui metode delphy, terpilih 10 parameter (DO, fecal coliforn, BOD, pH, COD, T-P, TSS, NO3, NH3, TDS), bobot parameter, dan kurva subindeks.
Pemerintah juga telah menetapkan intrumen Indeks Pencemar (IP) yang digunakan untuk melihat pemenuhan kualitas air terhadap baku mutu air yang ditetapkan. Instrumen IP membutuhkan semua data parameter kualitas air yang ada dalam peratura, atau baku mutu yang ditetapkan.
Namun belum semua parameter tersebut mampu dipantau sehingga informasi yang diperoleh belum merepresentasikan pemenuhan baku mutu secara keseluruhan.
Kini hasil pemantauan kualitas air umumnya masih disampaikan secara parsial untuk masing-masing parameter kualitas air yang kompleks, antara lain kadar BOD, Hg, COD, Endrin, NO3, dan DDT sehingga informasi tersebut masih sulit dipahami masyarakat awam dan pengambil kebijakan. (idr/idr)











































