"Ya karena jadwalnya sudah mepet, masak kurang sebulan daftar kok belum ada statement dan keresmian. Terus omong programnya bagaimana?" kata pengamat politik dari President University Muhammad AS Hikam di Para Syndicate, Jl Wijaya Timur 3, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2018).
Baca juga: Sekuat Apa Duet Prabowo-AHY? |
Ia menilai suasana politik menjelang Pilpres 2018 lebih ramai membahas terkait siapa capres dan cawapres, sementara pembahasan terkait program untuk memajukan bangsa kurang dibahas. Menurut Hikam, justru petahana diuntungkan dengan situasi tersebut karena Jokowi sering menyebut akan melanjutkan programnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hikam, bila penantang Jokowi memiliki figur lebih baik dan unggul, akan dapat menggeser perhatian publik terhadapnya. Sementara itu, jika Prabowo kembali menantang Jokowi, ia harus bekerja keras.
"Bagi penantang yang sudah pernah kalah, ia harus bekerja ekstrakeras untuk mengalahkan petahana. Selama dua dasawarsa terakhir belum ada seorang presiden yang terpilih setelah pernah kalah dalam pencapresan sebelumnya," ucapnya.
Selain itu, ia menilai kesulitan pihak penantang Jokowi mengumumkan paslon yang diusung karena implikasi dari aturan ambang batas presidensial. (yld/rna)










































