detikNews
Jumat 06 Juli 2018, 13:05 WIB

Sandiaga Bilang Ada Noni Belanda-nya, Ini Sejarah Balai Kota DKI

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Sandiaga Bilang Ada Noni Belanda-nya, Ini Sejarah Balai Kota DKI Gedung Balai Kota DKI Jakarta. Foto: Niken Purnamasari/detikcom
Jakarta - Sebuah gambar yang menampilkan sosok wanita pucat saat pelantikan wali kota untuk wilayah administrasi DKI Jakarta beredar. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menganggap gambar itu hoax, tapi dia lantas bercerita tentang keberadaan 'noni Belanda'.

"Saya yakin itu (penampakan perempuan disangka hantu) hoax dan di Balai Kota saya sudah tinggal 8 bulan di sana. Aman-aman dan makhluk halusnya sangat... noni Belanda-nya sangat ramah sama saya," cerita Sandiaga saat ditemui di jalur pedestrian Kali Besar, Jl Kali Besar Barat, Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (6/7/2018).

'Noni Belanda' adalah sebutan yang awam dilekatkan untuk perempuan keturunan Belanda. Sebelum memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia dijajah oleh pemerintahan kolonial Belanda yang berpusat di Batavia (sekarang Jakarta).



Mulanya pemerintahan Batavia berkantor di gedung yang kini diberi nama Fatahillah. Gedung tersebut kini menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Seiring perkembangan kota, pemekaran wilayah Batavia mengarah ke selatan (Weltevreden). Sehingga membuat kantor pemerintahan pun pindah.

Kantor pemerintahan Batavia pun pindah ke gedung yang sampai sekarang jadi kantor pusat pemerintahan DKI Jakarta. Balai Kota Jakarta dulunya adalah kantor sekaligus kediaman dari Burgemeester alias Wali Kota Batavia.

Wali Kota Gemeente Batavia pertama adalah GJ Bisschop yang memerintah pada tahun 1916-1920. Bangunan itu pun dibuat sejak abad 19.

Dikutip dari situs jakarta.go.id, pemerintahan Bisschop memberikan banyak perubahan sehingga namanya diabadikan jadi sebuah taman, Burgermeester Bisschoplein yang kini dikenal dengan Taman Suropati. Semasa pemerintahannya, banyak jalan dan kanal dibangun di wilayah Batavia. Penduduk yang berasal dari Eropa pun dicatat.



Bisschop awalnya tinggal di kompleks Balai Kota. Hingga akhirnya dia mendapat rumah dinas di bangunan yang kini jadi rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.

Selama pendudukan Belanda, Wali Kota Batavia berganti hingga 4 kali. Hingga akhirnya Jepang masuk wilayah Indonesia dan mengusir Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, kantor itu tetap dijadikan pusat pemerintahan Jakarta Tokubetsusi. Pejabatnya kala itu disebut Sityoo.

Setelah RI memproklamasikan kemerdekaan, Belanda masih belum mengakuinya. Belanda kembali menduduki Jakarta dan Gedung Balai Kota kembali jadi kantor Wali Kota Gemeente Batavia.

Hingga akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, gedung itu pun jadi kantor bagi Gubernur DKI Jakarta. Hingga kini bangunan bergaya Tuscan itu masih dipakai untuk kegiatan resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meski ada beberapa bangunan yang ditambahkan di kompleks tersebut.

Kini bangunan itu kembali ramai jadi perbincangan setelah ada sosok wanita pucat yang disebut oleh Sandiaga sebagai hoax itu. Ruangan yang dipakai Gubernur Anies Baswedan untuk melantik wali kota wilayah administrasi DKI Jakarta pun berada di gedung peninggalan Belanda sejak abad ke-19.


(bag/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com