ADVERTISEMENT

Amien Rais Singgung Nawasengsara, Golkar: Jangan Nyinyir

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Rabu, 04 Jul 2018 18:00 WIB
Wasekjen Golkar M Sarmuji (dok. pribadi)
Jakarta - Politikus senior PAN Amien Rais kembali melontarkan kritik tajam dengan mempertanyakan pencapaian Nawacita Jokowi-JK yang kemudian disebutnya 'nawasengsara'. Partai pendukung pemerintah, Golkar, meminta Amien Rais tak asal mengkritik.

"Pak Amien sebaiknya tidak nyinyir yang tidak sesuai dengan kenyataan," kata Wasekjen Golkar M Sarmuji kepada detikcom, Rabu (4/7/2018).


Sarmuji menilai kritik yang disampaikan Amien sebagai upaya membentuk opini masyarakat. Tujuannya agar masyarakat memiliki persepsi yang sama dengan Amien.

Padahal realitasnya, kata Sarmuji, sebagian besar masyarakat puas terhadap kinerja pemerintah. Dia pun mempertanyakan motif di balik kritik tersebut.

"Atas dasar apa Pak Amien mengatakan seperti itu selain dari rasa kecemburuan atas kinerja pemerintah," ujarnya.


Lebih lanjut, Sarmuji menjelaskan Nawacita Jokowi selama ini telah terbukti keberhasilannya. Sarmuji mencontohkan keberhasilan Jokowi-JK dalam membangun wilayah pinggiran.

"Saat pemerintahan Pak Jokowi yang baru 3 tahun lebih ini, kawasan pinggiran dan perbatasan bersolek dengan cepat. Harga diri rakyat di perbatasan yang dulu dipandang rendah, bahkan ada perasaan minder dengan negara tetangga saat ini sudah bangkit kembali," kata Sarmuji.

Sorotan tajam kembali dilontarkan Amien kepada pemerintahan Jokowi. Amien mempertanyakan pencapaian visi-misi Jokowi-JK yang disebut Nawacita.


"Nawacita jadi 'nawasengsara', kemudian revolusi mental itu sampai ke mana? Yang direvolusi mental yang kayak apa?" kata Amien dalam sambutan pada acara halalbihalal di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

Kritik ini dilontarkan Amien saat menggambarkan kondisi negara yang menurutnya tidak membaik. Dia menyebut pemimpin bangsa seakan-akan menyodorkan demokrasi, tapi kenyataannya diskriminatif.

"Jadi saya melihat pangkal permasalahan bangsa ini adalah beberapa pucuk pimpinan itu menerapkan demokrasi tapi isinya diskriminasi," sambung Amien. (mae/dkp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT