"Kalau banyak yang nggak terungkap, ya nanti saya lihat yang bertanggung jawab siapa. Apa kapolresnya, kasat sersenya, dir resersenya atau kapoldanya. Nanti saya lihat levelnya," tegas Tito usai acara Dies Natalies STIK/PTIK ke-72 di STIK/PTIK, Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/7/2018).
Tito selalu menaruh atensi pada hal-hal yang menjadi keluhan masyarakat. Sistem pemberian penghargaan dan hukuman menjadi sikap dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito mengaku tak peduli bagaimana strategi polisi di wilayah-wilayah menyelesaikan masalah kejahatan jalan. Yang terpenting, lanjut Tito, hasil dari operasi tersebut.
"Mau bentuknya Tim Jaguar, Tim Resmob, Tim Buru Sergap, apa aja silahkan. Yang penting bagi saya adalah hasil. Kalau misalnya dalam satu bulan ini ada kejadian, nggak terungkap dengan profesional, ya ganti lah. Ganti kapolres, dirserse, kasat serse. Berarti dia nggak bisa kerja. (Jabatannya) Ditawarkan kepada yang mau, yang bisa kerja," tandas Tito.
Sebelumnya Tito mengaku telah mengatensi kasus kejahatan jalanan di DKI Jakarta yang belakangan menyita perhatian publik. Mulai dari penjambretan yang dialami Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarief Burhanuddin, penjambretan rombongan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno dan penjambretan penumpang ojek online yang berakhir dengan tewasnya korban.
Kejahatan jalanan, diakui Tito, perlu menjadi atensi karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Ada 4 polda yang kinerja resersenya menjadi perhatian utama Tito yaitu Polda Metro Jaya, Polda Banten, Polda Sumatera Selatan dan Polda Jawa Barat.
(aud/aan)










































