Dewan Muslim Inggris ke Indonesia, Jelaskan Bom London

Dewan Muslim Inggris ke Indonesia, Jelaskan Bom London

- detikNews
Senin, 25 Jul 2005 16:59 WIB
Jakarta - Bom yang mengguncang London seminggu lalu dipastikan tidak mempengaruhi hubungan umat Islam di sana dengan umat lainnya. Masyarakat Inggris menilai kejadian itu murni kriminalitas, bukan terorisme dari kalangan muslim.Hal ini disampaikan Ketua Dewan Muslim Inggris Sir Iqbal Sacranie usai silaturahmi Dewan Muslim Inggris dengan PP Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya, Jakarta, Senin (25/7/2005). Hadir dalam acara itu Dubes Inggris untuk Indonesia Richard Humprey."Semua orang Inggris telah memiliki solidaritas yang kuat dan satu pandangan dalam melihat tragedi ini," ungkap Iqbal kepada detikcom.Secara mayoritas, semua warga Inggris melihat tragedi tersebut sebagai tindakan kriminal dan bukan aksi teroris Islam. Hanya sebagian kecil masyarakat dan media yang memandang negatif umat Islam. "Kita memiliki komunikasi yang baik antarkelompok masyarakat. Kita selalu memberi penjelasan kepada media setiap ada kesempatan," katanya.Selain itu, pihaknya, lanjut Iqbal, juga aktif berkomunikasi dengan para pemuka agam lain. Mereka juga memiliki kesepakatan dalam menyikapi peristiwa ini. "Sekarang masyarakat Inggris sudah tenang," tegasnya.Mengutuk PengebomanDi tempat yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengutuk aksi kekerasan yang terjadi di London. "Kami meminta pemerintah Inggris jangan sampai ada kekerasan dalam mencari pelaku pemboman ini karena bisa menjadi kecemasan yang luas di masyarakat," katanya.PP Muhammadiyah, lanjut Din, mendukung langkah pemerintah Inggris untuk melakukan investigasi yang efektif dalam mencari pelaku pemboman ini. Namun, Muhammadiyah meminta jangan sampai ada upaya mengkaitkan aksi teror itu dengan agama tertentu, termasuk Islam."Karena itu akan mengundang reaksi dan masalah yang ada tidak terselesaikan dengan baik. Mari kita semua bekerjasama, dan kita sedih kalau ada warga tidak berdosa yang menjadi korban," katanya.Dia juga mengimbau pemerintah RI jangan memandang kasus seperti itu di Tanah Air lewat kacamata kuda, sehingga sering terjadi penangkapan yang tidak prosedural. (umi/)


Berita Terkait