DetikNews
Senin 25 Juni 2018, 15:13 WIB

Prabowo: Saya Tak Pernah Nonton Piala Dunia, Sedih RI Tak Ada

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Prabowo: Saya Tak Pernah Nonton Piala Dunia, Sedih RI Tak Ada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Tsarina Maharani/detikcom)
Jakarta - Masyarakat dunia sedang gegap gempita menyaksikan turnamen sepakbola Piala Dunia 2018. Hal itu tak berlaku bagi Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Prabowo mengaku tak tertarik menonton pesta sepakbola 4 tahunan itu. Alasannya sederhana, tak ada Indonesia dalam daftar kontestan Piala Dunia 2018.

"Paling sedih saya, peringkat sepakbola Juni 2018, Saudara-saudara, Indonesia 164, di bawah Belize. Negara kecil Islandia masuk Piala Dunia," kata Prabowo di Jl Widya Chandra IV, Jakarta, Senin (25/6/2018).

"Saya termasuk yang tidak pernah nonton Piala Dunia karena saya sedih Indonesia nggak ada. Itu saja," ucap Prabowo.


Prabowo mengkritik peringkat sepakbola RI sembari mengungkit data-data perbandingan Indonesia dengan negara lain soal banyak hal. Prabowo merujuk pada data Bank Dunia.

Selain sepakbola, Prabowo menyoroti pendapatan per kapita RI. Prabowo menyebut posisi Indonesia saat ini tak sesuai dengan keadaan sumber daya alam yang dimiliki.

"Apakah pantas dari PDB nominal per kapita kita rata-rata, pantas nggak, rata-rata kita di dunia ini, urutan kita adalah 152. Kita di bawah Armenia, 3.500. Padahal negara kita keempat terbesar di dunia memiliki semua sumber alam yang bisa dibutuhkan oleh negara maju," ucapnya.

"Singapura, pulau hanya 55 ribu hektare, tidak punya batu bara, kelapa sawit, karet, emas, tidak punya apa-apa. Dia bisa urutan ke-11. Kita tidak boleh iri ke Singapura, tapi kita harus belajar. Kita bertanya, ataukah elitenya, kita-kita ini pemimpin pemimpinnya yang kurang pandai, kurang pintar," jelas Prabowo.

Prabowo lalu berbicara tentang indeks pembangunan manusia versi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut Prabowo, kriteria negara berhasil atau tidak versi PBB salah satunya diukur oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM itu memuat harapan hidup, penghasilan nyata rata-rata, dan tingkat pendidikan.


"Indonesia nomor urut 113. Sedikit di atas Palestina. Singapura di atas 10 besar. Malaysia di atas, Thailand di atas. Kita bertanya sekali lagi, mengapa kita papan bawah Indeks Pembangunan Manusia," ucap Prabowo.

Prabowo lalu beranjak ke indikator harapan hidup. Indonesia ada di peringkat 168 dari 200 negara.

"Ini rapor kita makin merah. Kita di bawah Mikronesia. Saya juga nggak jelas Mikronesia persisnya di mana. Di bawah Thailand, Vietnam," ucapnya.

Berangkat ke indikator kesehatan, salah satunya konsumsi protein per hari Indonesia. Prabowo menyebutnya 'lumayan'. Prabowo juga bicara indikator kemudahan mendapatkan air bersih.

"Lumayanlah, kita di atas Kenya, masih di bawah Chad, Chad negara padang pasir. Saudara bukalah YouTube, Chad itu masih perang sekarang," sebut Prabowo.

"Negara 73 tahun merdeka. Kemudahan mendapat air bersih, Indonesia sedikit di atas Tajikistan, 123, rakyat kita banyak yang tidak punya air bersih. Ini kita nomor 1 jumlah spesies binatang mamalia yang terancam punah. 191," ucap Prabowo.
(gbr/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed