DetikNews
Kamis 21 Juni 2018, 21:33 WIB

Bahaya di Balik Balon Liar yang Tetap Mengudara di Langit Jawa

Robby Bernardi, Zunita Amalia Putri, Akfa Nasrulhaq - detikNews
Bahaya di Balik Balon Liar yang Tetap Mengudara di Langit Jawa Festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah (Foto: Uje Hartono/detikcom)
Jakarta - Tradisi menerbangkan balon saat lebaran di tanah Jawa sulit untuk diubah meski dianggap membahayakan penerbangan. Tak jarang, otoritas penerbangan mengeluhkan adanya balon-balon liar yang terbang di jalur penerbangan.

Ancaman hukuman juga sebenarnya tercantum jelas dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Apabila melanggar, ancaman hukumannya pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp 500 juta.


"Satu pasal dalam UU itu yang cukup berat kalau dia lalai melakukan sesukanya, dia akan dapat diancam 2 tahun kurungan penjara," kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada Minggu (17/6).

Namun pemerintah sebenarnya tidak sekaku itu hanya dengan menegakkan aturan. Sebuah tradisi tentunya tidak semudah itu diubah 'hanya' dengan hukuman pidana, seperti disadari langsung oleh Manajer Humas Airnav Indonesia Yohanes Sirait.

Untuk itulah, berbagai festival balon diselenggarakan agar balon-balon yang diterbangkan warga dapat diatur sedemikian rupa serta tidak mengganggu penerbangan: win-win solution. Berbagai festival balon udara digelar di kota-kota yang memang memiliki tradisi tersebut seperti di Ponorogo, Jawa Timur dan Pekalongan, Jawa Tengah.


"Kami sadar mengubah tradisi tidak mudah. Dengan festival ini setidaknya akan mengurangi sedikit demi sedikit," kata Yohanes, Kamis (21/6).

Dalam festival itu, balon-balon yang diterbangkan diatur serta ditambatkan sehingga tidak liar terbang di langit lepas. Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Agus Santoso mengatakan balon-balon dalam festival itu dapat diterbangkan dengan ketinggian maksimal yaitu 150 meter dan ukuran 7 x 4 meter pada saat balon menggelembung, tetapi balon harus ditambatkan.

Apabila tidak ditambatkan, balon tersebut mampu mencapai ketinggian 38 ribu kaki di mana ketinggian tersebut merupakan ketinggian jelajah (cruising) pesawat udara untuk rute domestik maupun rute internasional sehingga dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Di samping itu balon udara yang diterbangkan juga merugikan masyarakat seperti dapat mengganggu aliran listrik apabila jatuh pada sutet.


(dhn/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed