Ada Flu Burung, Harga Daging & Telur Ayam di Yogya Malah Naik

Ada Flu Burung, Harga Daging & Telur Ayam di Yogya Malah Naik

- detikNews
Rabu, 20 Jul 2005 22:51 WIB
Yogyakarta - Munculnya wabah flu burung ternyata tidak mempengaruhi bisnis peternakan ayam di Indonesia. Di Yogyakarta buktinya, harga daging ayam potong broiler dan telur justru mengalami kenaikan.Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Selomartani, Kalasan, Sleman, Suradi Maryono mengatakan, harga telur ayam mulai mengalami kenaikan sejak satu minggu terakhir. Kenaikan terjadi di tingkat peternak maupun pedagang di sejumlah pasar."Harga telur ayam dari peternak akhir bulan Juni lalu Rp 7.700/kg, saat ini naik menjadi Rp 8.100/kg untuk harga kulakan. Sedangkan harga di tingkat pedagang eceran sudah mencapai sekitar Rp 8.300 - Rp 8.500/Kg," kata Suradi kepada detikcom, Rabu (20/7/2005).Suradi mengaku, ketika wabah flu burung mulai muncul lagi di musim pancaroba atau pergantian musim pada bulan Mei - Juni lalu, hampir semua peternak ayam dihantui perasaan khawatir bisnisnya akan jatuh. Namun tanpa diduga, justru pada bulan Juli ini, harga daging ayam dan telur pelan-pelan mulai naik."Dulu harga telur sempat bertahan lama sekitar Rp 7.500 - Rp 7.700/kg. Kalau sekarang naik lagi, kami bisa bernapas lega asal tidak diikuti kenaikan harga pakan ayam," katanya.Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (APAYO) Harry Wibowo, yang ditemui terpisah mengatakan, wabah flu burung tidak banyak mempengaruhi bisnis peternakan ayam, karena masyarakat sudah cukup sadar dan tidak panik menghadapi masalah itu."Kami memang sempat khawatir, tapi ternyata masyarakat sudah cukup mengetahui apa itu flu burung dan bagaimana cara mengkonsumsi yang aman. Justru saat ini harga daging dan telur ayam malah naik," katanya.Menurut Harry, kenaikan harga tersebut bukan karena kasus flu burung, melainkan karena mekanisme hukum pasar yanag berlaku saat ini. Awal tahun 2004, wabah flu burung telah membuat bangkrut sebagian besar peternak di Yogyakarta dan sekitaranya."Karena belum banyak peternak yang kembali berbisnis di peternakan. Sesuai hukum pasar, barang berkurang tapi permintaan naik sehingga harga pun otomatis ikut naik," katanya.Tingkat konsumsi daging ayam di wilayah Yogyakarta rata-rata 90 ton/hari. Sedangkan tingkat produksi daging ayam dan telur dari peternak hanya 80 persen dari keseluruhan atau kurang dari 90 ton/hari. Sehingga masih mendatangkan daging dari luar daerah.Harry mengatakan berkurangnya produksi daging di DIY juga disebabkan kenaikan harga bibit ayam (DOC) dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 per ekor. Agar bisa BEP peternak harus menjual daging ayam minimal Rp 7.200/kg."Sewaktu memelihara, harga masih Rp 7.300/kg. Namun saat ini harga sekitar Rp 8.000 - Rp 8.200/kg," ujarnya. (fab/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads