DetikNews
Minggu 10 Juni 2018, 05:02 WIB

Tanya Jawab Islam

Fanatik Buta pada Ustaz

Tim detikRamadan - detikNews
Fanatik Buta pada Ustaz Foto: 20detik
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Jakarta - Sebagai penuntut ilmu agama, kita harus selalu haus dan bersemangat mencari guru yang bisa mengajarkan kita kebaikan dunia akhirat. Karena belajar dengan bimbingan guru akan membantu kita memahami ajaran yang disampaikan.

Namun di sisi lain, ada sebagian orang yang fanatik terhadap ustaz tertentu, sehingga menutup hati dan pikiran pada pendapat ustaz ajaran lain. Terkait fenomena ini, kita hendaknya tidak mencukupkan diri dengan satu guru saja, mengingat ilmu itu sangatlah luas.

Sangat miris jika kita menyaksikan sesama umat Islam, baik di media sosial maupun dunia nyata saling bully. Hal ini seringkali terjadi karena adanya perbedaan referensi ustaz yang mereka miliki.

"Satu kelompok umat Islam merujuk kepada ustaz A, sementara kelompok umat Islam yang lain merujuk kepada ustaz B. Perbedaan-perbedaan pandangan di kalangan para ustaz itulah yang seringkali memicu terjadinya friksi di internal umat Islam," kata Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Abdul Moqsith Ghazali, melihat fenomena ini.


Oleh sebab itu, menurutnya penting disadari oleh para ustaz agar tidak selalu menyampaikan pendapat kontroversial yang memicu terjadinya friksi sesama umat Islam, terlebih jika perbedaan pendapat di kalangan para ulama itu tidak menyentuh esensi ajaran agama.

"Perbedaan pendapat itu tidak menyentuh esensi ajaran agama. Maka diimbau para ustaz agar menyampaikan kepada publik Islam bahwa ini adalah salah satu pendapat. Sementara ada pendapat-pendapat lain yang bisa ditoleransi untuk menjadi rujukan sebagian umat Islam yang lain," urainya.

Moqsith mencontohkan perkara jumlah rakaat salat tarawih. Ada pendapat yang menyatakan salat tarawih itu 8 rakaat, ada yang menyatakan 20 rakaat, ada juga yang menyatakan 36 rakaat. Nah, 8 rakaat, 20 rakaat, dan 36 rakaat ini dimungkinkan di dalam fiqih Islam.

Adalah tugas para ustaz memberikan edukasi di tengah-tengah masyarakat bahwa 8 rakaat, 20 rakaat, dan 36 rakaat sama sahnya dan sama legitimasinya di dalam ajaran-ajaran pokok Islam seperti di dalam hadis.

"Tantangan terbesar bagi para ustaz adalah jangan memperuncing perbedaan-perbedaan yang tidak penting di dalam Islam," pesan Moqsith.

Lebih baik, lanjut Moqsith, umat Islam didorong supaya mereka memahami pokok-pokok ajaran agama Islam sambil diedukasi tentang kemungkinan terjadinya keragaman pandangan di dalam Islam.

Sebab bagi umat Islam yang awam, jika hanya diberi satu pendapat oleh satu ustaz dan kemudian dia fanatik kepada ustaz dan pendapatnya itu, maka kemungkinan caci maki sesama umat Islam muncul.

"Negara-negara timur tengah belakangan menjadi ambruk, menjadi sumber caci maki, menjadi sumber fitnah dimulai dari ketidaksadaran untuk memandang bahwa keragaman pandangan di dalam Islam itu adalah niscaya," ujarnya.



Contoh lainnya, tidak ada perbedaan di kalangan para ulama mengenai wajibnya salat dan mengenai jumlah rakaatnya. Namun para ustaz patut mendidik umat Islam bahwa tata cara salat seringkali punya perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Katakanlah doa 'iftitah, doa yang dibaca di dalam salat tersebut berbeda-beda. Ada yang membaca 'Allahumma ba'id', ada yang membaca 'Allahu akbar kabira', dan ada juga yang membaca 'Wajjahtu wajhiya'. Menurut Moqsith, ketiganya sah. Karenanya, jangan hanya merujuk pada satu ustaz ataupun satu pendapat.

"Jika ustaz hanya menyampaikan satu pendapat dan dia kemudian merujuk hanya kepada satu pendapat didasarkan kepada fanatisme, maka energi umat Islam akan habis untuk menangani perbedaan-perbedaan yang tidak diperlukan di dalam umat Islam sendiri," pungkas Moqsith.

Simak penjelasan selengkapnya dalam sketsa berikut ini:




Saksikan program Tanya Jawab Islam, setiap hari pukul 17:35 WIB selama Ramadan di detikcom.



Tonton juga video spesial Ramadan lainnya tentang mengaji berikut ini:


(rns/rns)
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed