DetikNews
Jumat 08 Juni 2018, 13:34 WIB

HNW: Islam Justru Korban Teroris Terbesar Sepanjang Sejarah

Tia Reisha - detikNews
HNW: Islam Justru Korban Teroris Terbesar Sepanjang Sejarah Foto: Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (Dok. MPR)
Jakarta - Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid geram dan menyatakan bahwa Islam adalah korban teroris terbesar dalam sejarah. Hal itu disampaikan Hidayat untuk menolak stigma bahwa Islam lekat dengan aksi terorisme dan radikalisme.

"Kalau mau jujur, justru umat Islamlah yang menjadi korban teror terbesar sepanjang sejarah," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/6/2018).

Hal itu dikatakan Hidayat saat memberikan ceramah pada acara Kajian Ramadan UNY 1439 Hijriah di Masjid Al-Mujahidin Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis sore.

Ia menyatakan hal itu saat menjawab keprihatinan seorang jemaah muslimah bahwa dari banyak agama di Indonesia hanya Islam yang sering dituduh sebagai teroris seperti memakai cadar, berjanggut panjangan hingga solidaritas terhadap Palestina.


Namun Hidayat menegaskan bahwa semua itu tidak ada kaitannya dengan terorisme. Ia mengatakan bahwa hal itu memang bersumber dari nilai Islam.

"Simbol-simbol itu tidak ada kaitannya dengan terorisme karena bersumber dari nilai Islam," jelasnya seraya memaparkan bahwa tuduhan itu tidak beralasan.

Dia mencontohkan istri seorang anggota polisi di Polda Riau yang bercadar namun ternyata merupakan korban teror beberapa waktu lalu. Kemudian ia mencontohkan Kiai Agus Salim, seorang pejuang dan pendiri bangsa yang juga berjenggot panjang.

"Apakah Agus Salim termasuk terorisme? tentu saja tidak," tegasnya.

Selain itu, ia juga memberi contoh mengenai solidaritas terhadap Palestina yang pertama kali dilakukan oleh Bung Karno. Bukti solidaritas tersebut ditunjukan dengan menolak Israel menjadi peserta KTT Asia Afrika di Bandung pada 1955 dengan alasan Israel menjajah Palestina.

"Selama Israel menjajah Palestina, maka selama itu pula Indonesia tak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel," ujar Hidayat.

Bukan itu saja, ia mengatakan bahwa Bung Karno juga pernah melarang tim sepakbola Indonesia bertanding melawan kesebelasan Israel dengan alasan yang sama. Bung Karno, ungkap Hidayat, memegang prinsip lebih baik tidak mengikuti Piala Dunia daripada bertanding dengan Israel. Sehingga tidak alasan untuk menyebut solidaritas terhadap Palestina sebagai tanda terorisme.

"Kalau mau jujur, pelaku teror terbesar di dunia itu bukan karena agama dan bukan pula pengikut agama. Teror tidak mendatangkan keuntungan bagi agama apa pun," ungkapnya.

Oleh karena itu, menurutnya, tuduhan terhadap Islam sebagai radikalisme atau terorisme tak perlu ditanggapi dengan melakukan penghakiman jalanan. Jika perlu, kata dia, ajak para pelaku radikalisme tersebut untuk berdiskusi lalu paparkan fakta-fakta bahwa umat Islam itu bukan teroris.


Hidayat menilai perlu adanya komunikasi atau dialog dengan mereka yang melakukan fitnah terhadap Islam dan umatnya. Tentunya, ia berharap umat Islam memiliki wawasan yang lebih hebat dan lebih bagus untuk mengalahkan argumen para teroris.

"Tapi kita perlu mengajak mereka berdiskusi, kita ajukan fakta atau data bahwa Islam bukan teroris, bukan radikalis, dan Islam tidak seperti yang mereka bayangkan," jelas Hidayat.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa umat muslim perlu mencontoh Rasulullah dalam menyelesaikan masalah agar tidak menimbulkan konflik lain.

"Dalam menyelesaikan masalah kita perlu mencontoh Rasulullah. Bahwa sikap dasar Rasulullah adalah tidak menghadirkan konflik, tidak menghadirkan permusuhan, tidak membunuh, dan tidak pula melakukan teror, walau Rasulullah sendiri mendapat teror luar biasa," pungkasnya.
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed