Kabar viral itu memuat video seorang anak menangis karena tak dibolehkan datang ke masjid. Balita itu menangis mencari neneknya yang pergi salat ke masjid.
Video itu tampaknya diambil sang ibu. Ibu balita itu mengajak anaknya salat di rumah saja. Sebab, anaknya tak dibolehkan pengurus datang ke masjid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekjen DMI Imam Addaruqutni menilai larangan anak kecil datang ke masjid tidak tepat. Sebab, hal itu tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
"Iya (tidak tepat anak-anak dilarang ke masjid). Dalam sejarah nabi, ada juga anak-anak bisa bermain, belajar. Sehingga sampai-sampai ada anak-anak kencing di masjid. Kemudian mau ada kekerasan (karena dianggap) kencing di masjid kurang ajar. Tapi Nabi melarang tindakan kekerasan itu," kata Imam saat dihubungi, Kamis (7/6/2018).
Dia mengatakan membawa anak ke masjid akan secara langsung menjalankan beberapa kewajiban. Soal terganggunya kekhusyukan jemaah masjid, kata Imam, hal itu situasional dan tergantung cara pandang soal kehadiran anak kecil.
"Tak masalah anak datang ke masjid. Satu, itu waktu tarbiah (pendidikan) anak dan untuk mendekatkan diri pada masjid. Kedua, orang tuanya juga sedang lakukan kewajiban untuk tarbiah (pendidikan) pada saat yang sama," ujar dia.
Imam mengatakan sebaiknya tak perlu ada larangan anak-anak datang ke masjid. Pengelola masjid semestinya memberikan solusi dalam mengatur persoalan ini.
Sebab, masjid jadi tempat hadirnya setiap jemaah tanpa ada batasan umur, fisik, ataupun status sosial. Manajemen masjid mesti memikirkan cara mengurangi kegaduhan.
"Satu, mengurangi situasi gaduh bagi anak-anak. Misal, konteksnya dengan resolusi masjid. Orang tua yang bawa anak harap mengontrol anak ketika salat, misal jalan ke mana-mana atau menangis. Lalu juga mempersiapkan dengan membawa Pampers untuk mencegah yang bersifat najis itu jatuh di masjid," ujarnya.
"Dua, duduk di barisan belakang sehingga anak-anak tidak punya keleluasaan untuk bermain di tempat salat. Ketiga, misal sebelum ke masjid sudah dipesankan kepada anak untuk tidak menangis," sambung Imam.
Imam memberi contoh bagaimana Rasulullah membawa cucu-cucunya saat salat di Masjid Nabawi. Nabi menyesuaikan salatnya ketika sang cucu masih bermain.
"Nabi pun biasa menggendong cucunya. Itu salat itu di Masjid Nabawi. Itu disaksikan, banyak orang menggendong anaknya. Itu untuk menghindari situasi yang gaduh. Itu Hasan dan Husein digendong. Ketika dia di punggungnya, Nabi sujud lebih lama," ujar dia. (fjp/jbr)










































