DetikNews
Rabu 06 Juni 2018, 19:14 WIB

JK: Konflik di Negara Mayoritas Islam Datangnya dari Luar

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
JK: Konflik di Negara Mayoritas Islam Datangnya dari Luar Wapres Jusuf Kalla (Noval/detikcom)
Jakarta - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menghadiri rapat pleno ke-28 Majelis Ulama Indonesia. Dalam rapat itu, JK sempat berbicara mengenai aksi teror bom yang beberapa pekan lalu melanda Indonesia.

"Itu semua yang bikin bom Surabaya itu selalu dari luar, itu Bom Thamrin selalu dari luar karena perintahnya dari luar, perintahnya dari Afganistan. Jadi dunia Islam itu terjadi suatu keadaan di mana ada dari luar dan kita jadi pecah-belah," kata JK saat membuka rapat pleno MUI di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).



JK mengatakan, di dunia, jumlah pemeluk agama Islam terbilang besar. Tetapi ada pula negara-negara Islam yang hingga kini masih bergejolak. Ia mengatakan bom meledak di mana-mana dan hal itu selalu datang dari konflik negara-negara di luar Indonesia.

"Tapi ada kondisi yang baik dan buruk. Kita lihat kondisi di negara Islam, hampir 53 negara Islam, penduduk mayoritas Islam itu terdiri atas 15-an yang bergejolak. Jadi luar biasa posisi kalau kita lihat tiap hari di televisi ini zaman umat Islam bergejolak satu sama lain atau dibom dari luar satu sama lain. Ini kondisi luar biasa dan semua yang perang konflik itu semua datangnya dari luar. Jadi ada suatu kondisi, kalau ingin negara Barat maju, negara Islam harus berkonflik satu sama lain dan itu ditulis di buku," papar JK.

Ia lalu menyebut, jika negara maju ingin terus maju, negara-negara Islam di dunia harus berkonflik, sehingga negara tersebut tetap jadi negara maju.

"Untuk Amerika, negara-negara Barat maju, maka negara Islam harus konflik satu sama lain. Begitulah yang terjadi. Jadi banyak orang berpikir kenapa ini terjadi. Yang berkonflik banyaknya republik, kerajaan tidak. Suriah, Afganistan, Pakistan semua republik, yang kerajaan malah agak aman karena sifatnya yang Timur Tengah seperti itu," imbuhnya.

Hal inilah yang membuat adanya Islamophobia. Menurut JK, yang membuat Islamophobia semakin besar adalah orang-orang yang ingin memecah Islam tersebar di mana-mana. JK juga mengatakan seharusnya rakyat Indonesia bersyukur karena saat ini Indonesia dalam kondisi yang baik, tidak seperti negara-negara Islam yang sedang berkonflik saat ini.

"Dari kondisi itu timbullah Islamophobia dan yang melakukan itu kemudian tersebar ke mana-mana. Tersebar ini terbagi dua karena ideologi dan karena marah. Di Eropa lebih banyak karena marah, anak muda keturunan katakanlah dari Turki, Maroko, India, karena marah negaranya diobrak-abrik dan dia membalas. Kedua, kemudian mengalir konflik ini ke mana-mana termasuk Indonesia. Di Indonesia kita lihat hampir semua yang radikal selalu datang dari daerah-daerah berkonflik dan semua itu diduduki oleh orang asing. Al Qaeda datang dari Afganistan, itu kita tahu Rusia, Amerika berbuat yang luar biasa," imbuhnya.
(bag/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed