DetikNews
Senin 04 Juni 2018, 14:30 WIB

Laporan Dari Azerbaijan

Jejak Islam di Azerbaijan dan Pengaruh 3 Negara Besar

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jejak Islam di Azerbaijan dan Pengaruh 3 Negara Besar Foto: Masjid berarsitektur Turki di dekat Flame Tower di Baku (Nograhany WK/detikcom)
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Baku - Azerbaijan adalah negara di persimpangan Asia dan Eropa, di mana 93% dari 10 juta warganya adalah muslim. Jejak Islam di negara ini mengalir berdasarkan sejarahnya, mendapat 3 pengaruh dari kekuatan besar di sekelilingnya.

Deputi Presiden Azerbaijan bidang isu politik, publik dan media, Ali Hasanov memaparkan bahwa lokasi Azerbaijan ini cukup unik, karena di persimpangan perbatasan benua dan peradaban.


Peradaban Islam masuk dari benua Asia, di sebelah timur Azerbaijan. Di sebelah barat Azerbaijan, ada peradaban Eropa, yang mayoritas Nasrani.

"Kami negara kecil tapi kami lokasinya di antara akhirnya tanah Muslim, mulainya tanah Nasrani. Perbatasan Islam selesai di Azerbaijan, setelah kami, Eropa yang mulai. Jadi di Azerbaijan ini, karena hal itu tadi, kalian bisa lihat budaya Islam dan Kristen di sini," jelas Ali.

Jejak Islam di Azerbaijan dan Pengaruh 3 Negara BesarFoto: Deputi Presiden Azerbaijan bidang politik, publik dan media Ali Hasanov (Nograhany WK/detikcom)


Hal itu dikatakan Ali saat beraudiensi dengan 10 jurnalis Indonesia di kantornya pada Selasa (19/5/2018) lalu, yang ditulis Senin (4/6/2018).

"Tapi sama seperti di Indonesia, populasinya 93 persen muslim, sisanya agama-agama lainnya. Hanya saja bagian dari populasi Indonesia, 250 juta, kami 10 juta, persentasenya berbeda di sana," tuturnya.

Ali pun merunut ke belakang akan sejarah negerinya. Pada Abad 16, Azerbaijan termasuk dalam tanah imperium Persia, Dinasti Safawiyah. Menurut beberapa sumber, Dinasti Safawiyah yang berkuasa pada Abad 16-18 ini menjadikan Islam Syiah sebagai agama resminya.

Nah, di samping imperium Persia itu, ada Kekaisaran Ottoman yang berkuasa pada Abad 13-20 yang agama resminya adalah Islam Sunni. Bahasa Azerbaijan sendiri menunjukkan pengaruh Turki, yakni serumpun bahasa Turki lama. Turki pula yang membantu Azerbaijan mengusir tentara Soviet, saat tentara Soviet menginvasi dan membantai warga sipil Baku dalam Black January pada 20 Januari 1990 lalu.

Nah, di utara Azerbaijan, ada Imperium Rusia yang berkuasa pada Abad 18-20, sebelum akhirnya runtuh dan berganti menjadi Uni Soviet.

"Mereka selalu main kekuatan dan kekuasaan daerah di sini (Azerbaijan). Jadi Safavi (Safawiyah) yang tadi di antara Rusia, Turki dan Iran selalu mau ambil tanahnya (Azerbaijan). Di antara 3 negara besar selau ada konflik," papar Ali.

Akhirnya, tanah Azerbaijan di sisi selatan diambil oleh Iran, di barat diambil sebagian oleh Turki (dan belakangan Armenia) serta sisanya dikuasai Imperium Rusia yang kemudian jadi Uni Soviet.

"Jadi Azerbaijan selatan tadi diambil tanahnya oleh Iran, masih dibilang jajahan Iran, sepertiga Iran adalah tanah Azerbaijan yang dulu. Jadi orang Azerbaijan yang tinggal di utara Iran, di selatan Azerbaijan, 4 kali lebih banyak daripada penduduk Azerbaijan yang ada di sini (10 juta warga)," urai Ali.

Jejak Islam di Azerbaijan dan Pengaruh 3 Negara BesarFoto: Kawasan waterfront Kota Baku, ibukota Azerbaijan yang menghadap ke Laut Kaspia (Nograhany WK/detikcom)


Setelah Imperium Rusia runtuh pada 1917, Azerbaijan sempat mendeklarasikan kemerdekaan pada 1918.

"Jadi Azerbaijan yang kemarin kita merayakan 100 tahun (28 Mei 2018) adalah Azerbaijan di bawah jajahan Rusia," imbuhnya.

Namun usia kemerdekaan itu cukup pendek, 2 tahun saja, sebelum akhirnya diinvasi dan masuk kekuasaan Uni Soviet selama 70 tahun dari 1920-1990. Sebelum akhirnya Soviet runtuh pada 1991, dan Azerbaijan merdeka kembali.

Di bawah pengaruh Soviet yang komunis, pengaruh agama dinihilkan. Tempat-tempat ibadah dihancurkan.

"Waktu (di bawah kekuasaan) Uni Soviet, masjid-masjid semuanya dihancurkan, hanya ada 13 masjid yang tinggal. Sekarang di Azerbaijan ada 3.500 masjid. Masjid yang ribuan itu dibangun pasca Azerbaijan merdeka dari Uni Soviet sekitar tahun 1990-an," tutur Ali.

Tak Ada Syiah & Sunni, Hanya Islam

Jejak Islam di Azerbaijan dan Pengaruh 3 Negara BesarFoto: Masjid di Jojug Marjanli, daerah yang berhasil direbut kembali oleh Azerbaijan setelah dikuasai Armenia. Masjid ini beraliran Syiah, namun tak mau membedakan mazhab, yang ada, hanya Islam. (Nograhany WK/detikcom)


Bila dilihat dari sejarah, maka tak heran mayoritas dari 93% warga muslim di Azerbaijan adalah Syiah (pengaruh dari Persia/Iran), dan sebagian kecilnya Sunni (pengaruh dari Turki). Namun juga masih memegang sistem sekuler, yang bisa dikatakan masih ada sisa pengaruh Uni Soviet.

Meski demikian, Azerbaijan tak mau mengkotak-kotakkan mazhab Islam itu sebagai Sunni dan Syiah.

"Jadi di Azerbaijan, ada model Islam yang spesifik, yang khas. Jadi apa yang spesifikasinya ini di antara Sunni dan Syiah mereka bergabung bersama tanpa masalah. Ini jarang dilihat negara lain kecuali di Azerbaijan," tutur Ali dengan bangga.

Ali menambahkan bila orang dari luar Azerbaijan pergi ke masjid di Azerbaijan, bisa disaksikan ada jemaah yang salatnya Syiah dan Sunni, berbeda tapi tidak masalah. Azerbaijan tidak mau mengkotak-kotakkan antara Sunni dan Syiah. Semua itu demi kedamaian dan kehidupan harmonis di Azerbaijan.

"Jadi kalau kami ketemu dengan orang Iran dan Turki, baru kami merasa bahwa kami dibilang Sunni atau Syiah. Kalau kami sendiri, ya kami tidak merasa, mereka yang bilang kami Sunni atau Syiah," jelasnya.



"Jadi di Azerbaijan, kami merasa tak ada perbedaan mazhab, berarti dari luar yang menilai kami 'kalian Sunni atau Syiah'. Di Azerbaijan tidak ada mazhab-mazhab seperti ini, tidak terasa," tegasnya.

Namun, Ali juga menegaskan prinsip sekuler pemerintahan Azerbaijan.

"Jadi kalau pemerintah Azerbaijan tidak ada hubungan dengan agama. Tak ada pengaruhnya agama ke pemerintah, tak ada pengaruhnya pemerintah ke agama. Jadi, kalau tanah Azerbaijan termasuk ke Eropa, tujuan kami juga cenderung ke Eropa. Tapi tak hanya ini saja, kami punya hubungan dengan negara muslim di Timur, kami juga anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam)," tuturnya.

Pemerintah tetap memberi kebebasan beragama, namun kehidupan beragama dan pemerintah, tidak boleh saling mengganggu.

"Norma pemerintahan dan UU Azerbaijan memang tidak boleh pemerintah ganggu orang yang mau ibadah sesuai agamanya, dan juga agama tak boleh ganggu pemerintahnya. Jadi kami sebagai muslim, kami puasa, salat, pergi ibadah semua untuk kami, tak mau perlihatkan pada orang lain," jelasnya.

[Gambas:Video 20detik]


(nwk/erd)
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed