DetikNews
Minggu 03 Juni 2018, 05:24 WIB

Begini Rasanya Puasa di Suhu yang Turun Naik

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Begini Rasanya Puasa di Suhu yang Turun Naik Ramadan di New Delhi. Foto: dok. pribadi
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Tokyo - Berbicara mengenai pengalaman Ramadan, saya akan bercerita ketika terbang dari New Delhi, India ke Tokyo, Jepang, untuk mengikuti rapat mengenai hubungan Universal Health Coverage (UHC)--semacam Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia-- dengan Antimicrobial Resistance (AMR).

Perjalanan di bulan Ramadan ini memberi arti khusus. Sejak awal Ramadan, saya berangkat dari New Delhi dengan suhu 45°C, kemudian melanjutkan puasa di Tokyo dengan suhu 25°C.

Artinya, kalau selama bulan puasa orang biasa bercerita tentang turunnya berat badan, kalau yang saya alami adalah turunnya suhu tempat menjalani puasa. Dari suhu 45°C di New Delhi ke 25°C di Tokyo, turun 20 derajat sekaligus.



Tampaknya memang lebih enak karena bisa berpuasa di suhu yang tidak sepanas di New Delhi. Tapi kemudian ada tantangan lain. Subuh di Tokyo jam 2.40 pagi. Masalahnya, bukan saja karena terlalu awal, tapi juga karena 2.40 waktu Tokyo adalah 23.10 waktu New Delhi. Alhasil agak sulit menyesuaikan 'waktu biologis' saya untuk subuh yang kalau di New Delhi adalah waktu malam.

Masalah kedua, adalah waktu yang lebih panjang. Lama puasa di Tokyo adalah sekitar 16 jam. Karena saya hanya tiga malam di Tokyo, dan acara rapat padat sampai malam, tidak mudah mencari masjid di Tokyo.

Salah satu yang besar adalah Tokyo Camii Turkish Cultural Center. Di masjid ini ada buka puasa dan pembagian makanan Turki. Selain itu ada juga masjid Arabic Islamic Institute dan masjid Islamic Cultur Exchange yang berjarak 20 menit jalan kaki dari hotel di Shinagawa tempat saya tinggal.

Sementara itu, di tempat-tempat turis terkadang ada juga fasilitas untuk muslim beribadah. Saat saya ke Akihabara, di pusat elektronik, di salah satu basement salah satu toko terkenal ada musala. Kecil memang, namun cukup membantu bagi muslim yang hendak salat.

Begini Rasanya Puasa di Suhu yang Turun NaikDi depan United Nations University. Foto: dok. pribadi


Di Harajuku yang terkenal dengan pusat fashion dan lifestyle, kabarnya juga ada musala kecil di dekat Harajuku Tourist Information Center, namun saya belum pernah melihat langsung. Selain itu di seputar daerah yang banyak hiburan malam di Shinjuku juga ada masjid Al Ikhklas Kabukicho yang dikelola teman-teman dari Indonesia.

Nah, di gedung United Nations University tempat saya bolak-balik melakukan berbagai agenda rapat, tidak ada fasilitas salat. Jadi, saya sengaja minta disediakan prayer room.

Panitia menyediakannya dan juga ada seorang petugas yang mengantar saya ke kamar itu, memasangkan sajadah dan lain-lain. Ternyata petugas itu adalah warga Jepang muslim.

Dia bercerita, ayahnya berasal dari Iran dan ibunya asli Jepang yang jadi mualaf pada waktu menikah. Sayangnya, petugas ini tidak ikut salat dan bahkan bertanya ke saya 'Apakah sekarang sudah Ramadan?'.

Untuk masyarakat Indonesia di sini, ada masjid di Meguro, di kompleks Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) dan ada Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII).

Berbagai kegiatan yang mereka selenggarakan selama Ramadan antara lain tarawih, iktikaf 10 hari terakhir Ramadan, zakaf infaq sadaqoh (ZIS) dan lain-lain.

KMII juga menyediakan kartu jadwal salat Ramadan yang diberikan ke saya oleh seorang Dokter dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI yang sedang belajar sebagai kandidat doktor di Tokyo ini. Di luar bulan Ramadan, maka KMII juga menyelenggarakan tausiah bulanan.

Begini Rasanya Puasa di Suhu yang Turun NaikKartu jadwal salat Ramadan. Foto: dok. pribadi


Beberapa hari merasakan puasa di Tokyo, tak lama kemudian saya harus balik lagi ke New Delhi. Artinya, suhu kembali berubah dari puasa di suhu 25°C di Tokyo dan naik lagi ke puasa di suhu 45°C di New Delhi.



Tapi yang membuat saya semangat adalah membayangkan pekan depan akan pulang ke Jakarta. Selain bersyukur akan berpuasa di cuaca yang lebih 'ramah', yakni 33°C, saya juga tak sabar segera bertemu anak dan cucu.

Alhamdulillah, semoga ibadah puasa kita mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT.


*) Prof Tjandra Yoga Aditama Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dan Mantan Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan RI Sekarang bertugas di WHO South East Asia Regional Office di New Delhi.



Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.
(rns/rns)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed