DetikNews
Sabtu 02 Juni 2018, 16:05 WIB

Laporan Dari Azerbaijan

Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?

Nograhany WK - detikNews
Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa? Foto: Suasana kota Baku di siang hari saat Ramadan (Nograhany WK/detikcom)
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Baku - Azerbaijan adalah negara dengan 93 persen warganya muslim. Komposisinya serupa seperti di Indonesia. Namun mengapa Ramadan di negara api ini tak semeriah di Indonesia?

[Gambas:Video 20detik]


detikcom berkesempatan mengunjungi Baku, Azerbaijan, saat Ramadan pada 27-31 Mei 2018. Bila di Indonesia saat Ramadan ada pasar takjil yang selalu ramai menjelang buka, rumah makan atau depot tutup pada siang hari, sedangkan rumah makan yang buka memasang tirai agar tak bisa dilihat dari luar, sedangkan pada waktu tarawih orang-orang berduyun-duyun ke masjid.

Di Azerbaijan, kemeriahan saat Ramadan seperti di Indonesia itu tidak saya dapati. Aktivitas berjalan dengan santai, seperti tidak memasuki bulan Ramadan kalau di Indonesia.

Rumah makan dan penjual makanan jalanan tetap buka dan beraktivitas seperti biasa. Tidak ada tirai yang menutupi rumah makan itu.
Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?Penjual makanan tetap buka siang hari saat Ramadan di Azerbaijan (Nograhany WK/detikcom)

Warga yang tak berpuasa makan dengan terbuka di tempat umum. Tak ada yang risi atau terganggu oleh hal itu. Saling menghormati dan tak mencampuri urusan ibadah masing-masing.

Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?Penjual makanan tetap buka saat Ramadan di Azerbaijan (Nograhany WK/detikcom)


Aktivitas berjalan seperti biasa. Dari pagi hingga larut malam pun kota Baku masih ramai lalu lalang kendaraan, warga berkumpul di taman dan berolahraga di fasilitas publik.

Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?Suasana santai di siang hari saat Ramadan di suatu taman di Kota Baku (Nograhany WK/detikcom)


Saat waktu salat atau berbuka tiba, azan yang terdengar tidak bersahut-sahutan seperti di Indonesia, akibat saking banyaknya masjid dan musala di Indonesia. Anda akan mendengarnya bila hanya dekat dengan masjid saja.

Maka, jika Anda sedang mobile alias bepergian dan tiba waktu salat dan berbuka, lebih baik mengandalkan jadwal imsakiyah dan jam tangan Anda atau aplikasi penunjuk waktu salat di telepon seluler.

Suasana menjalankan Ramadan yang santai ini dijelaskan Deputi Presiden Azerbaijan Bidang Politik, Publik, dan Media Ali Hasanov.

"Jadi di sini, saya sebutkan ciri khasnya agama yang ada di Azerbaijan, orang kalau ibadah, dia ibadah seikhlasnya untuk dia sendiri, bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Ada yang puasa dan ada yang tidak puasa, tidak masalah. Terserah mereka," tutur Ali.

Hal itu dikatakan Ali saat para jurnalis Indonesia, termasuk detikcom, berkesempatan untuk beraudiensi dengan Ali di Kantor Presiden Azerbaijan, Baku, pada Selasa (29/5/2018).
Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?Para jurnalis Indonesia beraudiensi dengan Deputi Presiden Azerbaijan Bidang Politik, Publik, dan media Ali Hasanov (Nograhany WK/detikcom)

Ali pun menambahkan, dia memiliki bawahan sekitar 50 orang, tapi, tak ada orang yang tahu siapa yang berpuasa dan siapa yang tidak.

"Ini hubungan antara hamba dan Tuhannya, bukan yang lain. Apa yang kamu pikirkan, untuk kamu sendiri," jelas dia.

Ali lantas memberikan contoh lagi, bila ada sekelompok warga Azerbaijan berjalan bersama-sama, maka tidak akan ada yang tahu agama mereka, apakah Islam, Kristen, atau Buddha.

"Kadang-kadang, misalnya, bisa jadi orang buka puasa bersama, dan undang orang lain yang bisa jadi berbeda agama, tidak ada masalah. Ini memang hal yang kami banggakan, ciri khas orang Azerbaijan dan bangga memberi tahu pada orang lain bahwa ini model yang bagus," jelas Ali.

Dia lantas menegaskan bahwa sistem pemerintahan di Azerbaijan memang memisahkan agama dan negara. Pemerintah tetap memberi kebebasan beragama, namun kehidupan beragama dan pemerintah, tidak boleh saling mengganggu. Ya, Azerbaijan menganut sistem sekuler.
Ramadan di Azerbaijan Tak Semeriah di Indonesia, Kenapa?Deputi Presiden Azerbaijan Bidang Politik, Publik, dan Media Ali Hasanov (Nograhany WK/detikcom)

"Norma pemerintahan dan UU Azerbaijan memang tidak boleh pemerintah ganggu orang yang mau ibadah sesuai agamanya, dan agama tak boleh ganggu pemerintahnya. Jadi kami sebagai muslim, kami puasa, salat, pergi ibadah semua untuk kami, tak mau perlihatkan pada orang lain," jelasnya.

Begitu juga dengan azan yang tak saling riuh bersahutan. Ternyata, norma di Azerbaijan mengatur bahwa azan masjid mesti terdengar dengan radius maksimal 1 kilometer.

"Azan ada peraturan, karena ada orang-orang yang tak mau dengar azan. Diatur seberapa bisa keluar suaranya. Kalau di Istanbul, mau tidak mau mereka besarkan suara di masjid, ada waktu tidur dibangunkan, siapa tak mau dengar didengarkan. Kalau di Azerbaijan dibuat siapa mau dengar silakan ke masjid, kalau buat di rumahnya sendiri mau dengar azan, silakan. Jadi tiap masjid memang ada azannya tapi diatur bisa sampai sekitarnya saja, sekitar 1 kilometer," urai Ali.

Soal azan ini, lanjutnya, bukan peraturan tertulis seperti undang-undang. Seberapa jauh radius azan terdengar ini adalah norma yang jamak diketahui dan dipatuhi bersama.

"Ini bukan undang-undang tertulis dan tak ada hukuman (bila melanggar), ini seperti norma. Jadi ini negara bukan negara agama, peraturan harus kita sesuaikan dengan negara republik bukan negara agama," tegas Ali.
(nwk/rns)
FOKUS BERITA: Mosaik Dunia Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed