DetikNews
Rabu 30 Mei 2018, 13:52 WIB

Ramadan 2018

Ramadan di Ohio, Istimewanya Berbuka Setelah 16 Jam Puasa

Nala Edwin - detikNews
Ramadan di Ohio, Istimewanya Berbuka Setelah 16 Jam Puasa Lama berpuasa di Ohio 16 jam. Foto: Nala Edwin
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Ohio - Ramadan selalu menjadi momen istimewa, dimana pun menjalankannya, ta terkecuali di Amerika Serikat (AS). Perbedaan budaya dan letak geografis membuat berpuasa di AS terasa berbeda. Perbedaan yang paling mencolok adalah soal lamanya waktu puasa.

Karena saat ini di AS sedang musim panas, waktu siangnya lebih lama. Pada pukul 18.00 waktu setempat, Matahari masih bersinar terang seperti pukul 15.00 di Jakarta. Di sini, Matahari baru tergelincir pada sekitar pukul 20.00, sebelum akhirnya benar-benar tenggelam menjelang pukul 21.00.

Di kawasan Ohio, waktu berbuka adalah pada pukul 20.51 dan waktu subuh pada pukul 04.32, sehingga lamanya puasa sekitar 16 jam. Untuk suhu udaranya sendiri sudah mencapai 29 derajat Celcius hingga 31 derajat Celcius saat siang hari, tidak terlalu jauh dengan suhu di Jakarta.



Lalu bagaimana rasanya puasa 16 jam sehari? Sebenarnya, rasanya sama seperti di Indonesia, namun waktu berjalan seolah sangat lambat. Trik tidur siang yang biasa dilakukan untuk melewatkan waktu, tidak mempan di AS. Waktu puasa yang lebih lama membuat selama apapun tidur siang yang dilakukan, tak akan membuat waktu cepat berlalu.

Para pekerja juga masuk seperti biasa. Tidak ada kompensasi untuk pulang lebih cepat. Untungnya, saat musim panas pelajar dan mahasiswa libur Sehingga tidak harus masuk dan belajar di tempat kuliah.

Ramadan di Ohio, Istimewanya Berbuka Setelah 16 Jam Puasa Islamic Center di kawasan Ohio University. Foto: Nala Edwin


Buka bersama di kawasan Ohio University, biasanya digelar di Islamic Center yang terletak di kawasan kampus ini. Mahasiswa dan warga muslim dari berbagai negara berkumpul di masjid putih berlantai dua ini. Bagian bawah Islamic Center dipakai untuk tempat salat pria, tempat wudu dan juga ada dapur kecil untuk tempat memasak makanan.

Sedangkan bagian atasnya, digunakan untuk tempat wanita dan ada beberapa ruangan yang disekat dan digunakan sebagai kamar yang disewakan di bagian atas masjid ini.

Jemaah masjid datang menjelang berbuka sekitar pukul 08.20 waktu setempat. Mereka biasanya berbincang-bincang sambil duduk di atas karpet masjid yang telah diberi terpal berwarna biru.

Di atas terpal tersebut, biasanya sudah disediakan kurma, air kemasan, dan buah-buahan. Setelah masuk waktu berbuka, para jemaah menyantap kurma kemudian antre untuk mengambil bubur shorba yang dimasak di dapur kecil yang ada di bagian bawah masjid.

Ramadan di Ohio, Istimewanya Berbuka Setelah 16 Jam Puasa Suasana berbuka puasa bersama. Foto: Nala Edwin


Bubur berwarna coklat ini bisa dibilang pengganti kolak meski dengan rasa yang berbeda. Kalau kolak terasa manis, maka bubur ini terasa gurih. Bubur tersebut dimasak di dapur kecil yang terletak di bagian bawah masjid. Para jamaah masjid antre dengan tertib untuk mengambil bubur ini.

Setelah makan bubur, biasanya dilanjutkan dengan makan bersama. Setiap weekend biasanya ada makanan seperti nasi kebuli beserta ayam atau menu lainnya di masjid ini. Acara buka puasa bersama ini rutin digelar setiap akhir pekan.

Bubur shorba. Bubur shorba. Foto: Nala Edwin


Setelah makan, biasanya kegiatan akan dilanjutkan dengan salat isya sekitar pukul 22.00, dilanjutkan dengan salat tarawih yang akan berakhir sekitar pukul 23.00.



Kegiatan buka bersama di Islamic Center Ohio University merupakan salah satu kegiatan dari banyak masjid di AS. Majalah National Geographic edisi Mei 2018 menyebut ada lebih dari 2.100 masjid tersebar di AS.

Sementara itu, Pew Research Center memperkirakan sekitar 3,45 juta muslim tinggal di AS pada 2017. Jumlah ini sekitar 1,1 persen dari total populasi penduduk di AS.

Hidangan khas dari berbagai negara. Hidangan khas dari berbagai negara. Foto: Nala Edwin


Yang jelas, sama seperti di Indonesia dan belahan negeri lainnya, selama Ramadan, muslim di AS pun dengan suka cita menjalankan ibadah puasa. Waktu puasa yang lebih panjang dibandingkan dengan di Indonesia, bukan sesuatu yang dikeluhkan, melainkan membuat saat berbuka menjadi lebih istimewa.


*) Nala Edwin adalah warga Jakarta yang tinggal di Ohio, Amerika Serikat sejak 2015.


Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.
(rns/rns)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed